|
December 04, 2009
Judul lagu tersebut akhir-akhir ini sangat familiar sekali di telinga kita, hampir setiap hari lagu itu menghiasi berbagai media elektronik dari mulai internet, radio sampai televisi. Berlahan tapi pasti, lagu nyentrik ini menggantikan lagu-lagu gokil pendahulunya semacam Tak Gendongnya si Mbah Surip, Lupa-lupa Ingatnya Kuburan Band. Mungkin karena terlalu banyaknya band dan penyanyi yang mengusung jenis musik pop dan rock, masyarakat membutuhkan sesuatu yang beda, sesuatu yang simpel, mudah diingat dan menghibur tentunya. Peluang itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh Bongky (ex personil Slank dan BIP) untuk membentuk Warteg Boys, yang beraliran Hip hop dengan rap ngapak alias dialek khas orang-orang di daerah Tegal, Purwokerto dan sekitarnya. Dengan menggandeng dua anggota Agooz dan Ari sebagai ngapak rappers, sedangkan Bongky sendiri berperan sebagai mas DJ, Warteg Boys menghasilkan single andalannya ‘Okelah Kalo Begitu’ yang bisa menggebrak industri musik tanah air dan bisa diterima hampir semua kalangan dan usia. Berikut ini lirik lagunya: Sebagai orang Tegal, kita boleh bangga karena dialek atau logat ngapak kita ketika digunakan untuk membuat lagu bisa booming dan diterima di industri musik tanah air. Walaupun sepengetahuan penulis Bongky bukanlah orang Tegal, tapi dengan sentuhan ide kreatifnya Bongky bisa sukses dengan konsep rap ngapak yang dia tawarkan. Di sinilah kita sebagai orang Tegal harus termotivasi, khususnya para pemusik dari Tegal untuk bisa membuat karya bercirikan Tegal yang lebih baik, dan umumnya untuk semua masyarakat Tegal banggalah dengan bahasa, logat dan dialek kita, tidak usah malu mengakui ke-ngapakan kita.. Berikut cuplikan video dari Youtube.
October 17, 2009
Waduk Cacaban merupakan salah satu obyek wisata di kabupaten Tegal, terletak di desa Karanganyar kecamatan Kedungbanteng. Bendungan yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952 itu fungsi utamanya adalah sebagai sumber pengairan sawah-sawah disekitarnya. Selain fungsi utama tersebut, Waduk Cacaban juga difungsikan sebagai obyek wisata, dimana wisatawan dapat menikmati suasana santai dengan jalan-jalan di atas bendungan, memancing ikan, ataupun dapat mengelilingi waduk dengan perahu motor. Selain itu wisatawan juga bisa menikmati makanan khas ikan air tawar dari yang dijual oleh warga sekitar. Sebagai salah satu obyek wisata andalan kabupaten Tegal, ternyata Waduk Cacaban belum tergarap secara maksimal, berbeda dengan obyek wisata Guci yang nampaknya lebih diperhatikan oleh otoritas wisata setempat. Sebenarnya Waduk Cacaban sangat potensial sekali untuk dijadikan pilihan wisata bagi masyarakat dan merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah yang masih masih bisa dikembangkan. Pengembangan obyek wisata ini harus didukung oleh semua komponen, yakni Dinas Pariwisata, pemerintah Kecamatan/Desa, masyarakat sekitar dan Investor. Komponen terakhir inilah (baca: Investor) yang sepertinya kurang diajak untuk bersama-sama mengembangan potensi wisata Waduk Cacaban ini. Read the rest of this entry »
September 11, 2009
Malem rebo aku diundang melu rapat karo wong tuwa-tuwa sing wis pada sukses nang Jogja. Rencanane pan ana acara gedhe-gedhenan nang Jogja sing nglibatna wong-wong Tegal segala lapis mulai sing ngabdi negeri, pensiunan, dodolan warung, martabak, kuliah, nyantri, sampe sing iseh sekolah. Acarane engko bar bada, persise tanggal 4 oktober 2009 nang benteng Vrederburg. Aku dikon ngordinasi kanca-kanca mahasiswa mulai sing nang UGM, UII, UIN, UPN, d.l.l. Pas acara kiye, kang Traju sing tukang otak atik blog kiye juga melu, mbuh daning tak enteni laporane kaa..
August 25, 2009
Filed Under (Bangunan dan Fasilitas Kota, Berita) by arop
Bagi orang indonesia yang karena berbagai sebab harus merantau, mudik pada waktu lebaran adalah suatu kewajiban setiap tahun sekali. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat Tegal yang merantau. Berbagai cara dilakukan yang penting bisa mudik dan lebaran di Tegal. Kegiatan mudik adalah kegiatan setiap tahun yang hanya terjadi di Indonesia, tentunya mudik mempunyai tujuan yang mulia, salah satunya adalah menyambung silaturohim yang selama ini mungkin terputus / dibatasi jarak dan waktu. Baik itu silaturohim antar keluarga, kerabat, teman, tetangga dan lain-lain.
Berbagai alat transportasi dapat digunakan dalam rangka mudik ke Tegal, salah satunya adalah naik kereta api. Yah, naik “ular besi” atau kereta api atau orang tegal biasa menyebut dengan “numpak sepur” adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak dan juga bagi kita, apalagi pas musim mudik. Karena naik kereta api biasanya tidak seperti naik bus yang kadang sudah berdesak-desakan kena macet pula, hal ini bikin stress. Kalau kita mudik menggunakan Kereta api, paling kena jadwal berangkat kereta yang molor (he…he…). PT. Kereta Api Daop IV Semarang yang sebelumnya telah memperpanjang jalur Kereta Api Kaligung Ekspress yang biasanya jalurnya Tegal -Semarang diperpanjang hingga ke Stasiun Slawi. Sehingga para warga Slawi yang merantau di Semarang dan sekitarnya, tidak harus ke Stasiun Tegal dulu untuk naik Kereta Api Kaligung Ekspres, karena mereka bisa naik dari Stasitun Slawi. Dalam mengembangkan usahanya Stasiun Tegal yang berada dibawah PT. Kereta Api Daop IV Semarang melakukan kerja sama dengan PT. Kerata Api Daop III Cirebon dengan meluncurkan kereta api Cirebon Ekspres (Cireks) jurusan Tegal -Jakarata (PP) yang biasanya melayani penumpang orang tegal dari stasiun brebes, maka sejak tanggal 03 Agustus 2009, penumpang warga Tegal tidak harus ke stasiun brebes lagi untuk naik Cireks, karena bisa naik langsung di Stasiun Tegal. Hal ini juga tentunya memudahkan warga Tegal yang merantau di Jakarta untuk pulang menggunakan kereta Cireks, karena bisa langsung turun di Stasiun Tegal. Kereta Api Cirebon Ekspress mempunyai gerbong bisnis dan eksekutif yang akan memberikan kenyaman dalam perjalanan. Tarif Cireks hari biasa dari Stasiun Gambir-Tegal adalah Kelas Eksekutif Rp. 80.000 s.d Rp. 100.000,- sedangkan kelas Bisnis Rp 65.000 s.d Rp. 80.000,-. Untuk lebaran tahun ini Tarif Cireks untuk kelas Eksekutif adalah Rp. 105.000 sedangkan kelas Bisnis adalah Rp. 80.000,- Sedangkan Jadwal Keberangkatan Cireks dari Stasiun Gambir adalah dua kali yaitu pukul 11.00 WIB dan pukul 18.30 WIB. Para penghobi “ular besi” yang ingin mudik ke Tegal, selain menggunakan Kereta Cireks dan Tegal Arum, dapat juga menggunakan beberapa kereta lainnya, baik itu kereta Eksekutif, Bisnis ataupun Ekonomi yang berhenti di Tegal. Adapun nama keretanya adalah Argo Muria, Argo Sindoro, Kamandanu, Gumarang, Sembrani, Fajar Semarang, Senja Semarang, Brantas, Kertajaya, Matarmaja, Tawang Jaya, dan Harina ( dr Bandung). (untuk keterangan tarif dan jadwal bisa dilihat di http://infoka.kereta-api.com) Semoga dengan diluncurkannya Kereta Cirebon Ekspress (Tegal-Jakarta pp) akan mempermudah dan memberi manfaat bagi masyarakat Tegal dalam menjalankan aktifitasnya dan juga dapat menunjang kemajuan daerah Tegal. SEMOGA Sumber foto: www.suandika.co.cc
July 06, 2009
Filed Under (Berita, Profil Pelayan) by juragan
Tak terasa perjalanan masa, begitu cepat berlalu. Dari sekedar obrolan ngalor-ngidul beberapa orang yang tidak dapat dilepaskan dari trend yang berkembang saat itu di bidang teknologi informasi, sampai dengan pembahasan serius bermuatan idealisme anak-anak rantau untuk turut serta membangun kampung halaman. Lahirlah sebuah upaya cerdas untuk mengejawantahkan niat mulia tersebut dalam sebuah wadah, sebuah arena yang dimaksudkan menampung aspirasi dan menebarkan informasi. Tentang Tegal. Tegal yang dimaksud jelas tidak hanya dalam pemahaman geografis semata, wilayah Tegal yang terbentang dari laut Jawa di sisi utara sehingga lembah Gunung Slamet di Selatan, juga dari perbatasan Kabupaten Pemalang di sisi timur dan Kabupaten Brebes di sisi barat. Melainkan juga Tegal dalam pemahman konstruksi budaya yang melingkupinya. Sebab Tegal masa kini telah jauh berkembang menjadi salah satu pengaya ragam budaya Indonesia. Kini setelah 2 tahun berlalu, Komunitas Blogger Waroengtegal.org mengalami beberapa kemajuan berarti. Namun belum berarti apa-apa untuk sebuah upaya mulia sebagaimana yang dicita-citakan semula. Walau begitu kita perlu memberikan apresiasi yang tulus setinggi-tingginya atas partisipasi Juragan, para Pelayan, para kontributor, para anggota, dan semua pihak yang telah turut serta menjadikan Woroengtegal.org seperti sekarang ini. Tugas dan tantangan ke depan masih lebih banyak dan lebih berat. Waroengtegal.org dituntut untuk lebih sigap dalam merespon dinamika perkembangan Tegal, serta selalu up to date dalam menginformasikan perkembangan-perkembangan terbaru mengenai Tegal. Bagaimanapun, upaya ini harus tetap diteruskan! Merdeka! Salam!Tabik!Selamat!
June 06, 2009
Pada tulisan kali ini pak Bhanu akan sedikit mengupas masalah “iwak” (Ikan). Saya tidak akan bercerita mas Limbad lagi yang memang suka makan ikan baik mentah maupun yang mateng. Pak Dosen Amikom ini cuma sedang mengingat jaman dahulu kala ketika sangunya masih “Mangpe” (5 rupiah) dan masih suka dolanan “rok Selawe“. Saat dimana Kaligung masih jernih sebagai tempat uji kesemaptaan wajib bagi anak laki-laki. Dan waktu bhanu kecil harus menyelinap dari rumah agar bisa belajar berenang di Kaligung. Pastinya masih banyak nama ikan yang bertebaran di masyarakat Tegal. Saya hanya mampu mengingat beberapa yang saya anggap berbeda saja. Jenis Ikan lain seperti Ikan Mas, Lele, Wader, Cupang, dsb. biasanya mempunyai sebutan yang sama di hampir semua daerah. Deskripsi yang saya tulis pun sangat subyektif karena tidak ada ctatan resmi mengenai kosakata ikan di Tegal dan sekitarnya. |
|