Dua hari kemarin aku barusaja mudik ke rumah, tragis memang, aku harus melewati jalan rusak itu berkali-kali, padahal aku biasanya mudik kerumah setiap sebulan sekali atau dua bulan sekali. Longsornya jalan menuju ke arah Guci, kecamatan Bumijawa dan kecamatan Bojong di sekitar Kalibakung-jembatan kali Gung sudah terjadi sejak awal Februari lalu. Kejadian tanah longsor , jalan ambrol dan jembatan putus memang sudah sering terjadi di daerah itu. Tetapi berbeda dengan kejadian-kejadian sebelumnya bila bencana itu terjadi, biasanya pemerintah dengan cepat merespon dan memperbaiki sarana yang rusak itu, tapi kali ini sungguh sangat berbeda, jalan yang rusak parah dan ambrol itu lama didiamkan dan cuman di timbun dengan sirtu (pasir batu) yang bersifat sementara dan terlihat asal urug saja.
Bayangkan dari awal februari, sampe sekarang awal september (sekitar 7 bulan), transportasi dari dan menuju kecamatan Bojong, kecamatan Bumijawa dan Guci terganggu, berapa banyak kerugian yang harus ditanggung?!?. Bila dibandingkan dengan dana yang harus ditanggung pemerintah untuk memperbaiki sarana itu, mungkin sudah sebanding dengan kerugian yang diderita masyarakat karena rusaknya sarana tranportasi yang tidak kunjung diperbaiki itu. Seperti yang aku alami sendiri, sudah beberapa kali aku mudik karena aku harus mengadu nasib di semarang dan ketika aku pulang harus menemui jalan rusak itu lagi, sampe kapan motorku harus bergerilya dijalan yang ngga sepantesnya jalan menuju OW sekelas Guci?? Kenapa ngga cepet-cepet diperbaiki saja, biar kerugian masyarakat ngga terus bertambah, ngga tau atas pertimbangan apa sehingga pemerintah lambat untuk menyelesaikan masalah itu. Apakah maslah dana??!kalo iya, untuk apa pajak yang harus disetor tiap tahun, kemana pendapatan wisata Guci yang katanya terbersar di kabupaten Tegal untuk bidang wisata, kemana PAD (pendapatan asli daerah) lainnya??. Masa kabupaten Tegal yang besar ini dan kemarin baru merayakan ultahnyayang ke 406, ngga mampu memperbaiki kerusakan itu?! Padahal jalan itu merupakan jalan tercepat satu-satunya menuju wilayah kabupaten tegal di kaki Gunung Slamet itu dari Tegal, dan pariwisata ke Guci akan sangat terganggu bila jalan itu nga segera diperbaiki, serta biaya transportasi yang membumbung harus ditanggung masyarakat dari dan ke Bojong dan Bumijawa.
Mungkin pemerintah perlu mengingat dan melaksanakan ajaran guru SD kita, yang mengajarkan bahwa bencana longsor, tanah ambrol dan banjir dapat dicegah dengan mengadakan reboisasi. Ketika pemerintah harus berulangkali melakukan pekerjaan yang sama untuk memperbaiki jalan itu karena longsor, kenapa ngga kepikiran untuk menceganya saja agar longsor itu tidak terjadi. Solusi kongkritnya sih pemerintah mewajibkan masyarakat pemilik lahan lahan di sekitar situ untuk menanam pohon sebagai sarana reboisasi, atau kalo itu dirasa berat oleh pemilik lahan, pemerintah bisa membeli lahan di sekitar jalan yang biasa longsor itu untuk kemudian dilakukan reboisasi.
Monggo warga Tegal beropini disini…


23 comments so far
Leave a reply