12
Feb

Monumen GBN Slawi

   Posted by: sap   in Bangunan dan Fasilitas Kota

Kalau tidak salah dulu namanya adalah Monumen GBN (Gerakan Banteng Nasional), tapi orang Slawi dan sekitarnya menybutnya cukup monumen saja. Orang tua saya bilang monument dibangung sekitar tahun 1977 s.d. 1978, tapi tahun persis tepatnya tidak tahu.

monumen
Foto Monumen GBN sekarang

Sewaktu saya masih di Taman Kanak-kanak monumen adalah tempat tujuan berdarma wisata.Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, tentunya murah – meriah. Sambil kami menikmati bekel yang dibawa dari rumah Bu Pur Guru TK kami bercerita “ Anak-anak sesuai namanya monmen GBN ini dibangun untuk mengenang dan menghormati para pahlawan yang telah berhasil menumpas gerombolan pemberontak”. Di wilayah Tegal, Berebes dan sekitarnya pernah terjadi gerakan maker merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang gembong yang terkenal sadis suka menculik dan tidak segan-segan membunuh rakyat, namanya KUTIL. Dan untuk membersihkan gerombolan ini Pimpinan TNI pada waktu itu Jendral Ahmad Yani menugaskan TNI untuk menumpasnya bersama rakyat bahu-membahu, dan perjuangan membersihkan pemberontakan ini dikenal dengan nama GERAKAN BANTENG NASIONAL. Nah semua cerita perjuangan itu digambarkan pada dinding relief. Dan untuk menghormati serta mengenang jasanya maka di sebelah bagain selatan dibuatkan patung Jenderal Ahmad Yani, sementara di bagian utara untuk menggambarkan perwujudan manunggalnya ABRI dan Rakyat dibuat patung seorang anggoata ABRI dan pak tani.Sementara pada dua menara putih terpasang paling atas Burung Garuda Pancasila, dan lamabang ABRI (tiga angkatan dan POLRI). Jika diukur tinggi kedua menara yang paling tinggi adalah 17 meter, yang lebih pendek tingginay 8 meter. Sementara panjang dinding relief yang menceritakan perjuangan tadi adalah 45 meter. Oleh karena itu kita waijb harus menjaga dan merawatnya kata Bu Pur menutup ceritanya.

Semasa saya di bangku SD selama enam tahun monumen adalah segalanya. Monumen merupakan tempat pelaksanaan hampir lebih dari separuh kegiatan belajar di luar kelas. Dan yamg sering mengajak kami adalah Bu Kris, karena beliau adalah Kakak Pembina Pramuka yang sekaligus gueu olahraga. Di lapangan rumput hijau yang menghampar luas kami mengikrarkan Janji Siaga saat pertama kali menjadi anggota pramuka. Belajar kepanduan dari baris-berbaris, tali-temali, sandi rumput, morse sampai semapour. Di sekelilingi pohon cemara, pohon selong, bunga sepatu dan didominasi oleh pohon kamboja disebelah utara dan selatan. Disinilah kami digembleng untuk belajar menghayati Dasa Dharma Gerakan Pramuka. Lain waktu kami melakukan olahraga, dari atletik sampai permainan kesukaan kami “bola kasti”.

Selepas sekolah monumen adalah arena bermain favorit bagi anak-anak. Berlarian mengejar capung, main petak umpet, dan kalau beruntung saat tidak ada Pak Raden (penjaga monomen) kami bebas berenang di kolam air mancur tepat di depan tiang bendera utama. Atau saat bulan puasa tiba sambil menunggu berbuka biasanya kami mincing di kolam bagian sebelah selatan. Kolam berbentuk lingkaran oval dihiasi patung besar yang sedang memancing, serta dihiasi batu alam bulat yang besar-besar . Meski terkadang kami tidak dapat ikan karena tidak ada atau memang airnya yang hitam pekat menyebabkan ikannya mati tapi kami tetap bersuka ria dibawah rindangnya pohon cemara dan kamboja. Sementara tempat dipojok belakang bagaian utara adalah tempat terlarang bagi kami. Anak-anak bilang bahwa batu besar yang menyerupai telor raksasa itu adalah angker. Jika mendekat bisa kesambet, apalagi sampai menyentuhnya bisa sakit dan menyebabkan kematian. Dari semua itu tempat paling favorit adalah patung ABRI dan Pak Tani. Biasanya kami berlomba untuk menaikinya utuk merebutkan Bedil Raksasa.

Puncak keramaian di monument berlangsung saat perayaan hari kemerdekaan. Di sisi jalan dibangun panggung kehormatan tempat Bapak Bupati dan pejabat pemda berada saat karnaval tujuh belasan. Di depan panggung kehormatan inilaah para peserta karnaval memainkan aksi –aksi terbaiknya. Mempertontonkan kebolehannya di depan para punggawa pejabat teras pemda.

Teman, sedulur itu dulu coba tenggok monument GBN sekarang! Entah apa yang ada di benak pikiran para pejabat itu, halaman hijau luas itu telah digusur. Dibuat jalan aspal busur, membujur dari utara ke selatan. Ditengah isu rawannya pemanasan global, lapangan terbuka hijau malah tergerus. Monumen ku tak lagi luas, hilang sudah kolam air mancur.Terbabat pohon cemara dan kamboja, terganti lapangan rumput hijau dengan mengkilatnya aspal.

This entry was posted on Tuesday, February 12th, 2008 at 12:00 pm and is filed under Bangunan dan Fasilitas Kota. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

21 comments so far

 1 

Iya ya, pas waktu balik ke tegal aku juga kaget melihat jalan di depan GBN dan masjid agung jadi besar banget. Perkiraanku mungkin nanti ditengah-tengahnya bakal dibikin lapangan kayak alun-alun di tegal.

February 12th, 2008 at 4:08 pm
 2 

Itu abru monumen, yg terjadi di Brigif gmn? Pas aku masih kecil, kl lewat situ, aku selalu ngebayangin itu dulunya tempat perundingan Jenderal-Jenderal Besar Indonesia. Sekarang sudah jadi tanah, padahal peninggalan sejarah kayak gitu kan langka, malah dibongkar..

February 13th, 2008 at 8:07 am
 3 

mereka memang bajor.

February 13th, 2008 at 4:06 pm
mbosor
 4 

biasalah penghabisan anggaran, krn bingun gmn caranya, akhirnya monumem yg dibanggakan orang tegal kena imbasnya juga. Itulah pemerintah kita, bukannya mikirin jalanan plosok yg aspalnya udah pada ‘nyoplok’ tp ga diperhatiin. Jembatan2 yg cuma muat 1 mobil (arah langon-mejasem dan arah kaligayam-kemantran) khusus yg mau ke mejasem tuh tiap pagi macet, krn mobil mesti ngantri.
Trus katanya mau dibangun fly-over, khusunya di tirus (tepat di atas rel krt. api) trus di BP (Benjaran Premai) tp kapan ya terealisasi… kita doakan aja deh, biar tegal sedikit motropolitan :D

February 14th, 2008 at 8:28 pm
 5 

Wong ora nana pendidikane babar pisan!!!
lagi panas2 kaya kiye wit2ane malah ditebang…
Aku kangen maring tegal, wis lawas ora balik

February 15th, 2008 at 1:14 pm
 6 

Priben Kiye???
Kritik khususe nggo Pemkot Tegal, Kota Tegal perlu penambahan area hijau, wis terlalu gersang…

February 21st, 2008 at 7:39 am
 7 

kebijakan pemerintah memang bisanya suka ngawur, ngga merencanakan kebijakan untuk jangka panjang.bisa dilihat di jakarta, banjir terus, penyebabnya yaa tata kota yg semrawut dan tidak direncanakan untuk jangka panjang.

February 21st, 2008 at 3:26 pm
 8 

bupati tegal lg ngurusin dirinya sendiri yg lg dihujat orang banyak, jd nggak bs ngurusin rakyatnya. kalo milih pemerintah mbok ya yg bener, yg bijaksana-bijaksini kok dipilih? nggak ada orang lain lg?
putra-putri daerahnya jg kemana? lahir-kecil-sekolah di tegal, trus merantau, trus lupa pulang, lupa mbangun tanah air. yg ditinggalin di tegal cuman yg UNSKILLED dan MASIH BEGO, yha nggak berkembang..
mana jiwa2 pembaharunya? jangan cuma asbun *asal bunyi*!!

February 21st, 2008 at 5:05 pm
 9 

hayo hayo.. sapa hayo yang gak mau pulang ke Tegal……

Hayo pada balik gagiyan maring Tegal, toli pada nyalon dadi Bupati atawa Wali Kota oh…

February 27th, 2008 at 10:42 pm
 10 

Di bangun jalan lingkar ngarepe GBN dadi tambah panas, sing luwih mbajor, tanah Masjid Agung dadi kena gusur. Pdahal kan Masjid kudu di hormati. Apa maning sing arane shalat, kudu ning tempat sing adem karo ora brisik.

Mbuh mengko kepriben dadine

April 16th, 2008 at 2:54 pm
 11 

GBN skrng tuh beda bgd ga kya dlu lg,,,,

June 12th, 2008 at 7:15 am
 12 

Tulisan yang bagus & menarik. Saya mengalami masa kecil yang persis ditulis sama Sap.

Dulu saya bermimpi seandainya antara halaman Masjid Jami dngn Monumen bisa dihubungkan secara langsung tanpa adanya jalur kendaraan yang memutusnya,yang akhirnya orang2 bs berjalan di atas rerumputan dr masjid ke monumen.

Jalur kendaraan bs dilewatkan di bawah sebuah ruang terbuka hijau-atas yg menghubungkan masjid dgn monumen.
Saya membayangkan ramainya aktivitas orang bersosialisasi sembari beribadah.
Luberan orang2 berjamaah pada hari raya besar Islam tentunya tidak harus digelar di atas jalan raya beraspal yang panas.

Aktifitas orang ber-’monumen’& ber’masjid’ tidak diganggu oleh kendaraan yang lewat & membahayakan,trutama bagi anak kecil (konsep yang berbeda dgn konsep alun2 di jawa umumnya).

—————-
*Bermimpi Kota Slawi yang berbeda dgn Kota Tegal*

July 12th, 2008 at 3:18 am
METHA
 13 

duh…skr slawi jd ky gitu ya….
aku bc koment2 diatas kok rd2 ngeri ya?
apalagi brigif yg ktnya skr dah rata ma tanah,
pdhl kan aku dulu tinggal disitu, rumahku biasa buat ngumpul temen2 mpe mlm, soalnya sepi, ga bakal ganggu tetangga, hehehe….tp knp skr ga ada?pdhl itu bangunan bersejarah, bangunannya jg keren lho, buat syuting film ok bgt tuch…atau buat foto pre-wedding, hehehe….
hmmmm…kpn lagi aku bisa balik ke tegal ya?
emang sich tegal/slawi bukan kota asalku, tp tmn2ku banyak disana, secara 11thn aku disana…buat tmn2ku yg baca….yuk kita reunian lagi….aku diundang donk….hiks hiks hiks…

July 12th, 2008 at 5:09 am
 14 

waaah, rame juga yg kasih komen…walopun dah jarang ke Slawi tp klo denger dan lihat kondisinya seperti ko ya jd miris juga yaaa…
ide Andhi lumayan juga tuh, mesti ada jembatan layang yg bisa menghubungkan antara Masjid Jami dan GBN…
Tapi sayang bgt, nilai jual lokasi seperti GBN ini kurang mendatangkan devisa yg cukup buat pemerintah.jd mereka juga pasti berpikir bahwa pembangunan GBN yg bagus juga tidak sebanding dengan pendapatan yg didapat nantinyaaa…

Aset deaerah yg sedang dibidik tetep aja ga jauh2 dari Mall dan sejenisnya, imbasny tetep aja global warming lagi…

semoga yang terbaik buat Slawi, biar tetep AYU…

Piss

July 14th, 2008 at 4:24 am
Zenk
 15 

Slawi sich anake sapa? Ayoe ora?

July 14th, 2008 at 4:54 am
slawi lover's
 16 

kalo monumen GBN nantinya jd seperti apa esih durung ngarti, tapi kalo brigif sekarang udh aktif lagi, maksudnya brigif 4 (Dewa Ratna) yg dulu sempat dilikuidasi & bangunannya diratakan dgn tanah sekarang telah dibangun lagi dan asrama di sekitarnya udah diisi prajurit2 infantri. jadi slawi tambah rame lagi karena penduuke juga otomatis nambah dari keluarga prajurit brigif 4

July 14th, 2008 at 8:30 am
ayiz_pam
 17 

saya meluruskan cerita diatas, bhw pembangunan Monumen gbn tidak untuk mengenang peristiwa tiga daerah (kutil cs) akan tetapi untuk mengenang penumpasan pembrontakan DITII yang masih tersisa di wil tegal brebes, maka dibentuk brigif iv, oleh jenderal gatot subroto, ahmad yani, yasi hadibroto

July 29th, 2008 at 4:01 am
andri ismoyo
 18 

sing penting kiye carane eben kota tegal terkenel pimen….

August 12th, 2008 at 2:02 pm
Sitank
 19 

Nyong ujug2 kepengin mangan glothak nemen ah… pimen kjye… padahal saiki nyong nang sumbawa… ana sing gelem ngirim???

August 15th, 2008 at 3:27 pm
 20 

salam kanggo wong-wong twgal sing suwe ora pada balik. mudah-mudahan, GBN emang udah berubah katanya… tapi pasti tambah jelek. kata temenku sudah ngga sama waktu kita pada SMA dulu. Salam kanggo alumnus SMA I Slawi

September 22nd, 2008 at 9:05 am
 21 

no comen

November 11th, 2008 at 11:49 pm

Leave a reply

Name (*)
Mail (will not be published) (*)
URI
Comment