Monumen GBN Slawi
Kalau tidak salah dulu namanya adalah Monumen GBN (Gerakan Banteng Nasional), tapi orang Slawi dan sekitarnya menybutnya cukup monumen saja. Orang tua saya bilang monument dibangung sekitar tahun 1977 s.d. 1978, tapi tahun persis tepatnya tidak tahu.

Sewaktu saya masih di Taman Kanak-kanak monumen adalah tempat tujuan berdarma wisata.Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, tentunya murah – meriah. Sambil kami menikmati bekel yang dibawa dari rumah Bu Pur Guru TK kami bercerita “ Anak-anak sesuai namanya monmen GBN ini dibangun untuk mengenang dan menghormati para pahlawan yang telah berhasil menumpas gerombolan pemberontak”. Di wilayah Tegal, Berebes dan sekitarnya pernah terjadi gerakan maker merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang gembong yang terkenal sadis suka menculik dan tidak segan-segan membunuh rakyat, namanya KUTIL. Dan untuk membersihkan gerombolan ini Pimpinan TNI pada waktu itu Jendral Ahmad Yani menugaskan TNI untuk menumpasnya bersama rakyat bahu-membahu, dan perjuangan membersihkan pemberontakan ini dikenal dengan nama GERAKAN BANTENG NASIONAL. Nah semua cerita perjuangan itu digambarkan pada dinding relief. Dan untuk menghormati serta mengenang jasanya maka di sebelah bagain selatan dibuatkan patung Jenderal Ahmad Yani, sementara di bagian utara untuk menggambarkan perwujudan manunggalnya ABRI dan Rakyat dibuat patung seorang anggoata ABRI dan pak tani.Sementara pada dua menara putih terpasang paling atas Burung Garuda Pancasila, dan lamabang ABRI (tiga angkatan dan POLRI). Jika diukur tinggi kedua menara yang paling tinggi adalah 17 meter, yang lebih pendek tingginay 8 meter. Sementara panjang dinding relief yang menceritakan perjuangan tadi adalah 45 meter. Oleh karena itu kita waijb harus menjaga dan merawatnya kata Bu Pur menutup ceritanya.
Semasa saya di bangku SD selama enam tahun monumen adalah segalanya. Monumen merupakan tempat pelaksanaan hampir lebih dari separuh kegiatan belajar di luar kelas. Dan yamg sering mengajak kami adalah Bu Kris, karena beliau adalah Kakak Pembina Pramuka yang sekaligus gueu olahraga. Di lapangan rumput hijau yang menghampar luas kami mengikrarkan Janji Siaga saat pertama kali menjadi anggota pramuka. Belajar kepanduan dari baris-berbaris, tali-temali, sandi rumput, morse sampai semapour. Di sekelilingi pohon cemara, pohon selong, bunga sepatu dan didominasi oleh pohon kamboja disebelah utara dan selatan. Disinilah kami digembleng untuk belajar menghayati Dasa Dharma Gerakan Pramuka. Lain waktu kami melakukan olahraga, dari atletik sampai permainan kesukaan kami “bola kasti”.
Selepas sekolah monumen adalah arena bermain favorit bagi anak-anak. Berlarian mengejar capung, main petak umpet, dan kalau beruntung saat tidak ada Pak Raden (penjaga monomen) kami bebas berenang di kolam air mancur tepat di depan tiang bendera utama. Atau saat bulan puasa tiba sambil menunggu berbuka biasanya kami mincing di kolam bagian sebelah selatan. Kolam berbentuk lingkaran oval dihiasi patung besar yang sedang memancing, serta dihiasi batu alam bulat yang besar-besar . Meski terkadang kami tidak dapat ikan karena tidak ada atau memang airnya yang hitam pekat menyebabkan ikannya mati tapi kami tetap bersuka ria dibawah rindangnya pohon cemara dan kamboja. Sementara tempat dipojok belakang bagaian utara adalah tempat terlarang bagi kami. Anak-anak bilang bahwa batu besar yang menyerupai telor raksasa itu adalah angker. Jika mendekat bisa kesambet, apalagi sampai menyentuhnya bisa sakit dan menyebabkan kematian. Dari semua itu tempat paling favorit adalah patung ABRI dan Pak Tani. Biasanya kami berlomba untuk menaikinya utuk merebutkan Bedil Raksasa.
Puncak keramaian di monument berlangsung saat perayaan hari kemerdekaan. Di sisi jalan dibangun panggung kehormatan tempat Bapak Bupati dan pejabat pemda berada saat karnaval tujuh belasan. Di depan panggung kehormatan inilaah para peserta karnaval memainkan aksi –aksi terbaiknya. Mempertontonkan kebolehannya di depan para punggawa pejabat teras pemda.
Teman, sedulur itu dulu coba tenggok monument GBN sekarang! Entah apa yang ada di benak pikiran para pejabat itu, halaman hijau luas itu telah digusur. Dibuat jalan aspal busur, membujur dari utara ke selatan. Ditengah isu rawannya pemanasan global, lapangan terbuka hijau malah tergerus. Monumen ku tak lagi luas, hilang sudah kolam air mancur.Terbabat pohon cemara dan kamboja, terganti lapangan rumput hijau dengan mengkilatnya aspal.
21 comments so far
Leave a reply