7
Apr

Randu Alas

   Posted by: sap   in Nyante, Opini

Dalam bahasa latin dikenal dengan istilah bommbax ceiba ada juga yang menyebutnya Bombax malabaricum tapi dari kecil saya mengenalnya dengan nama RANDU ALAS.

Pohon ini sebenarnya seperti umumnya pohon kapuk randu yang biasa dijadikan sebagai bahan untuk membuat kasur atau bantal. Yang membedakan adalah ukurannya baik tinggi maupun diameternya lebih besar dari jenis pohon randu biasa.Dan randu alas ini sering ditemui dihutan atau perbukitan makanya orang menamakan randu alas.

Nah , yang akan saya ceritakan ini adalah pohon randu alas yang terletak di daerah slawi. Jika anda melewati jalan protokol Slawi-Purwokerto akan mudah mengenalinya karena letaknya yang dipinggir jalan dan ukurannya yang besar.

Tidak seperti namanya (alas) ia tumbuh di daerah pemukiman penduduk. Sewaktu saya kecil, zaman keemasan porkas dan sdsb tempat ini terkenal untuk mereka yang nglothang demi untuk mendapatkan wahyu impen untuk dijadikan kode buntut, berjudi mengundi nasib. Selain itu tempat ini sempat dikeramatkan karena sekitarnya semak belukar yang semrawut. Tetapi sekarang sudah tidak lagi, sudah rapi dan bersih.

Sayangnya keberadaan randu alas yang cukup unik ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai alternatif rekreasi atau hiburan. Mengingat di dekat keberadaan randu alas ada toko penjual macam-macam makanan khas tegal, salah satu yang paling dikenal oleh masyarakt slawi adalah tahu pletog randu alas.

Semoga para pejabat pemda kabupaten tegal segera menata dan mengelola keberadaannya agar dapat dijadikan sebagai salah satu objek atau tempat yang menarik perhatian masyarakat. Yang pasti randu alas akan tetap terdiam kokoh misterius menjulang menatap langit.

Tags: ,

This entry was posted on Monday, April 7th, 2008 at 4:50 pm and is filed under Nyante, Opini. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

17 comments so far

 1 

wahh ide yang menarik dan brilian kang!!bagus banget tuuh kalo di sekitar randu alas itu dibuat sentra/pusat jajanan dan oleh-oleh khas tegal atau mungkin ditambah taman kota(ruang terbuka hijau), mantab tuuh… !!selain sebagai alternatif wisata, juga bisa menjadi salah satu sumber PAD

April 7th, 2008 at 6:02 pm
 2 

ehh itu ndak fotonya asli foto randu alas yg di slawi itu??*amnesia*

April 7th, 2008 at 6:05 pm
 3 

hattrik!!!

pertamax yahh??

April 7th, 2008 at 6:06 pm
 4 

randu alas? kan banyak kali mas, sepertinya itu bukan sebuah fenomena yang menghebohkan, stauku di tegal banyak pohon serupa, tapi emang gak di pinggir jalan gitu. kayak di india aja, pohon dibikin wisata, wisata pacaran pula.. hihihi..

di deket rumahku jg ada kayak pusat jajanan tegal, sengaja dibangun gitu, tapi animo masyarakat rendah banget, malah sekarang aku lihat nyaris terbengkalai.

April 7th, 2008 at 6:08 pm
 5 

4:traju
men itu foto asli aku take pake hp 2 bulan kemarin pas jemput abah pulang.

4:arri
memang bukan fenomena, tapi waktu dulu di tempat itu banyak cerita yang dihubungkan dengan dunia ghaib.

April 8th, 2008 at 8:08 am
Ibhe
 6 

Di Balapulang juga ada tempat yang banyak pohon gede2 namanya pohon albasiah.Bekas markas belanda jaman dulu.tempatnya rindang,enak buat pacaran,tapi ati2 banyak mahluk alusnya….

April 10th, 2008 at 2:35 pm
aditya20
 7 

ngarepe uwit kue ana sing dodol tahu pletok. dadi kangen Tegal……

April 11th, 2008 at 3:43 pm
 8 

wah tempat semedine enyong di posting . gilaaa. .. . . . . .

April 12th, 2008 at 4:20 pm
 9 

Gak susah sih kalau kita mau mengubahnya menjadi sentra jajanan. Tempatnya juga kurang strategis kurasa. tapi kalau tempatnya di Tambun, wuih laris kayaknya. Banyak anak sekolahnya, sekalian cuci mata. ha3x.

4:all di Margasari juga ada pohon gede gitu,di daerah Jati Lawang. Pohonnya bentuknya emang kaya pintu gitu, ada “bolongannya”. Udah ratusan taun tuh pohonnya. kalau ditaksir, harganya bisa mpe milyaran kayaknya.

April 14th, 2008 at 10:38 am
 10 

Lha jaman berubah, saiki angger ora nduwe ide postingan nganggo ngisi blog bisa nglonthang maring ngisore wit kuwe kaya nggolet wangsit Porkas/SDSB, jaman gembiyen, Wah! Sesat !

April 18th, 2008 at 10:13 pm
 11 

Wah…Asli Tahu Plethoke enak nemen….
Ari mangan tahu kiye rasane…Semrenyem…..

April 28th, 2008 at 7:49 am
 12 

mas sap..

mbang endi sih? aku kayonge sering liwat slawi - purwokerto, kayong ora weruh yah? ne numpak montor matane mengarep terus sih..:P

yen neng kono ana pusat jajan bukane engko jine jengkel? Panggonane dadi rame..brisik maning..engko ana sing kesambet lah..:)

May 3rd, 2008 at 2:24 pm
 13 

kuwe tempat nggo lhuruh nomer kweh.. mhesih akeh sing lhotang ora ya.. :)

May 6th, 2008 at 11:41 pm
 14 

mengingat randu alas, dulu di tempat kelahiran saya juga ada satu randu alas yang tuinggi dan guede banget. Katanya sangat sungil dan banyak ornag tak berani menebangnya. Tapi akhirnya randu alas ini dipotong juga karena urusan dengan kabel pln. Sayang sekali, padahal randu alas itu jadi ciri khas cirebon kalau orang lewat cirebon melalui jalan bypass dari terminal bis.

May 14th, 2008 at 11:54 am
 15 

Pan ditebang? Aja nganti. Ne’ dipangkas sih ora pa2. Kan uwit kue ciri khase randu alas

May 22nd, 2008 at 4:00 pm
Meili
 16 

emang gaib tuh pohon,,katanya,,dulu sebelum pohon itu ada, itu tuh kuburan nenek2 gitu,makanya jadi gaib gitu.oiya,btw,kalo dijadiin tempat wisata,toko tahuku jadi tambah laris dunk,,boleh juga tuh idenya,,

June 1st, 2008 at 3:27 pm
Bambang Iswanto
 17 

Jarang sekali orang mengenang kampung halaman dengan menonjolkan tumbu-tumbuhan atau tanaman akan tetapi bloger yang ini lain, saya terus terang trenyuh kok tidak menyangka masih ada orang yang peduli dengan lingkungan, ini benar bahwa aset seperti ini perlu dibenahi cuma saya mau bertanya kepada yang lebih mengetahui tentang SANG RANDU ALAS karena sepengetahuan saya, bahwa sejak saya kecil RANDU ALAS sekitar tahun 1970 an sudah ada dan agaknya lebih besar dari ini, pertanyaan saya kepada masyarakat Tegal tercinta bahwa apakah ini merupakan RANDU ALAS generasi baru atau bukan, matur nuwun

June 23rd, 2008 at 4:04 pm

Leave a reply

Name (*)
Mail (will not be published) (*)
URI
Comment