Mungkin pernah dengar sepenggal bait lagu karya Bang Haji Roma Irama yang bercerita tentang pertunjukan kuda lumping (ini kalimat nggak pake SPOK-Red). Begini antara lain syairnya :
…Ada satu permainan, permainan unik sekali
Orang naik kuda, tapi kuda bohong
Namanya kuda lumping…
Seterusnya lagu itu bercerita bahwa yang naik ‘kuda bohong’ itu orangnya kesurupan. Bisa makan rumput, bisa makan padi, bahkan bisa makan kaca. Sehingga kalau menonton tidak boleh dari dekat karena akibatnya bisa berbahaya.
…Aduhai ngeri sekali…
Pertunjukkan ini di daerah saya (Kabupaten Tegal, bagian selatan khsusnya) amat terkenal. Entah, belum ada studi yang mendalami sejarah dari mana asal muasalnya. Mungkin tidak terlalu menarik, atau mungkin karena pertunjukkan itu tidak dianggap sebagai suatu hasil dari proses kreatif manusia pelakonnya. Sepintas memang hanya ‘pertunjukkan’ orang-orang kesurupan, menari-nari tidak karuan, dan lebih kental suasana magisnya. Busana yang dikenakannyapun tidak istimewa.
Tetapi kalau kita bilang ‘pertunjukan’, mau tidak mau sebenarnya kita harus memberi ruang juga untuk mengakajinya sebagai salah satu produk budaya, sebuah seni, mungkin. Terlepas apakah yang dinamakan seni itu harus memiliki standar estetika atau cita rasa tertentu atau tidak (yang mungkin ini tidak ada dalam pertunjukan itu, setidaknya menurut ukuran seni yang umum).
Ah, sudahlah. Mau dikaji atau tidak, toh, pertunjukan itu tetap ada dan digemari, ditunggu, sekaligus juga dinikmati. Seni juga kan tidak mewajibkan semua orang untuk suka.
Di desa saya (ini lho, maunya-Red), pertunjukkan ini agak sedikit berbeda dengan yang digambarkan Bang Haji. Kuda lumping di sini tidak melulu disajikan dalam sebuah arena untuk kemudian ditonton. Pun bukan dalam rangka pertunjukan itu sendiri. Tetapi atas permintaan orang yang mau ‘nanggap‘. Biasanya karena orang tersebut sedang berhajat mengkhitankan anaknya. Maka pertunjukkannya melalui sebuah prosesi arak-arakan keliling desa. Arak-arakan dimulai dari tempat ‘janturan‘( prosesi pemanggilan roh oleh dukun untuk masuk ke dalam tubuh penunggang kuda, disebut ‘Ebeg’) di kaki gunung, atau di tempat-tempat yang sepi di pinggiran desa, menuju rumah sohibul hajat. Sebenarnya iring-iringan itu dalam rangka mengarak ‘pengantin sunat’ yang dinaikkan ke atas seekor kuda (yang ini kuda beneran). Didandani ala pangeran timur tengah lengkap dengan kaca mata hitamnya. Diiringi tetabuhan rebana dan kendang yang dinamakan terbang kencer sambil melantunkan shalawat badar.
Tetapi justeru para Ebeg itu, yang jumlahnya selalu 3 orang, malah berlari ke sana kemari sepanjang jalan sehingga iring-iringan selalu tercerai berai. Mengapa? Karena para penontonnya, terutama para pria dewasa, madani alias memanggil-manggil nama Ebeg, dengan intonasi tertentu kadang mengejek, dan si Ebeg akan mengejarnya. Setelah orang dikejar dan tertangkap? Ebeg punya kebebasan unguk memukul, menyepak, dan menendang ‘korbannya’. Dan tidak ada yang akan marah atau protes. Tetapi biasanya sang pawang akan buru-buru melerainya. Tidak ada dendam atau kemarahan, karena si korban pun tertawa-tawa bangga. Sedangkan si Ebeg, tetap saja nanar tidak berekspresi, trance. Itu aturan tidak tertulis yang semua orang tahu dalam pertunjukkan Ebeg.
Maka bisa ditebak, hanya yang bernyali cukup saja yang berani ikut dalam permainan kejar mengejar itu. Di sinilah uniknya. Sementara para wanita menjerit-jerit menyaksikan, para pria dengan bangga unjuk kejantanan. Dan Sang Pawang dibuat repot oleh ebegnya yang memang kesurupan itu berlari mengejar meski ke luar dari jalan dan belepotan lumpur sawah. Si Pangeran Timur Tengah asyik saja menunggang kuda sambil menyimpan kengerian esok hari burungnya mau disembelih.
Arak-arakan itu pun lebih lambat sampai ke rumah sohibul hajat akibat para ebeg sibuk mengejar mangsa. Kejar mengejar masih dilakukan bahkan ketika ebeg sudah sapai di pelataran rumah dan memasuki sesi unjuk kebolehan. Makan beling, makan rumput, makan duri salak, dan atraksi-atraksi lain yang menggiriskan. Para pemuda selalu mengganggu ebeg dengan teriakan yang mengejek. Itu keanehan yang lain. Meskipun kesurupan, Ebeg selalu mendengar namanya diteriakkan sehingga selalu tergoda untuk berlari mengejar. Mungkin yang terdengar bukan ejekan tetapi semacam panggilan naluriah. Semacam sura ‘kung’ dari pejantan kodok di musim kawinnya.
Tingkat kegalakan ebeg ditentukan oleh seberapa susah ia disadarkan kembali. Proses penyadaran kembali ini pun menjadi tontonan yang tak kalah menarik. Beberapa orang pria yang kuat harus memegangi tangan, kaki, kepala, dan tubuh Ebeg. Kalau tidak, ia akan berlari lagi. Sepertinya roh yang bersemayam di tubuhnya enggan beranjak. Permintaannya pun jadi bermaca-macam, dari air kepala muda hingga soft drink. Semakin lama ebeg bisa disadarkan, semakin galak, semakin terkenal ia sebagai Ebeg papan atas. Tetapi semakin lunglai juga ia kalau sudah sadar dan kembali sebagai manusia. Apalagi, galak atau tidak, honornya sama saja.
Sebenarnya ada ‘pemanis’ dalam pertunjukkan tersebut. Yaitu kehadiran sepasang ‘aul’. Mungkin agak mirip dengan ondel-ondel betawi. Hanya ukurannya lebih pendek karena aul ini sebenarnya adalah laki-laki yang ‘didandani’. Masing-masing menganakan baju dari karung goni dan mengenakan topeng merah. Sepanjang jalan hanya lenggak lenggok saja. Mereka juga tetap sadar karena tidak dimasukkan roh halus ke dalam tubuhnya. Tetapi mahluk ini yang paling ditakuti anak-anak. Topengnya berwajah menyeramkan! Entah apa yang hendak digambarkan oleh penggagas pertunjukkan mengenai hal ini. Bisa jadi hendak melambangkan karakter jahat sepasang manusia. Manusia yang mana, belum ada yang tahu.
Setelah prosesi penyembuhan selesai, usai pula rangkaian pertunjukkan kuda lumping. Jalan kembali sepi hanya menyisakan bekas-bekas keriuhan. Tetapi di ruang-ruang pos ronda, beranda rumah, bahkan di langgar, perbincangan ataupun bisik-bisik menjadi semakin hangat. Para pemuda membanggakan diri dan puas karena cewek incarannya pasti menyaksikan. Para wanita mulai bergunjing tentang siapa nama sang jantan di pertunjukkan hari ini. Asal tahu saja, pertunjukkan ebeg selama bertahun-tahun telah menjadi ajang unjuk diri yang cukup efektif dan murah. Para putri berdandan, para pemuda beraksi menjadi yang paling keras dan paling dikejar. Karena di situlah pusat perhatian.
Itu dulu…jaman berubah, teknologi berkembang dan dengan cepat merangsek jauh ke pelosok desa-desa. Menggantikan semua hal yang bergerak lamban, tradisional, dan nggak gaul. Ketika harga pupuk mulai merangkak naik dan susah didapat, hama padi pun tak mempan dengan asap belerang. Cerita tentang keramaian dan kemudahan mencari nafkah di kota besar memikat nyamuk-nyamuk desa ini untuk bermigrasi. Meninggalkan becek lumpur sawah, menuju keramaian gemerlap cahaya kota. Menjadi apa saja asal halal.
Begitulah, kuda lumping pun ikut tersisih di gudang penyimpanan. Tak ada lagi ‘tanggapan’. Tak ada lagi jantur-janturan, tak ada lagi suara terbang kencer mengiringi pangeran timur tengah diarak keliling desa. Sesekali masih tampil di peringatan ulang tahun kemerdekaan. Tetapi itu juga kalah gemerlap oleh kelompok marching band.
“…Kuda lumping, nasibnya nungging…” (kata Swami).
Oleh : KH
11 comments so far
Leave a reply