Archive for February, 2009
February 26, 2009
Sang surya mulai beranjak naik, saat angkot yang aku tumpangi sampai ke tempat yang aku tuju. Setelah membayar ongkos aku segera menuju gerbang. Aku melihat banyak orang berjalan-jalan sambil menghirup segarnya udara pagi. Yah, akhirnya sampai juga aku ke tempat yang telah banyak dibicarakan orang.
Setelah itu aku segera beranjak masuk ke dalam taman. Sekitar satu meter dari pintu gerbang aku melihat sebuah papan yang berisi denah taman. Ternyata taman ini memiliki 3 pintu gerbang. Gerbang utama walaupun lebar ternyata khusus untuk para pejalan kaki, sedangkan bagi pengunjung yang membawa kendaraan bermotor bisa lewat gerbang 2 dan 3 yang masing-masing mempunyai tempat parkir serta tempat berjualan yang katanya khusus makanan dan minuman tradisional seperti Tahu Aci, Soto Tegal, Kupat Glabed, Sate Tegal, Nasi Lengko, Nasi Ponggol, Teh Poci, jigur, sekoteng dll. Pokoknya tradisional semua. Disitu juga ada tempat penjualan souvenir atau oleh-oleh khas Tegal seperti poci, batik tulis Tegal dll. Ini mungkin yang menjadi salah satu daya tarik para pengunjung karena disini khusus menjual makanan & minuman tradisional. Read the rest of this entry »
February 17, 2009
Saya baru saja merasakan jawaban yang terakhir, pencarian yang menemukan, sebuah penantian panjang yang akhirnya tidak sia-sia. Apaan tuh! Barangkali masih ingat postingan beberapa saat lalu yang menceritakan perihal Ebeg. Hanya karena takut ide di kepala keburu menguap maka terbitlah tulisan itu. Benar-benar tulisan saja tanpa foto peristiwanya. Memang cukup repot memberikan diskripsi apa dan bagaimana Ebeg yang saya lihat dulu sewaktu masih beyes. Beberapa teman waroengtegallers menanyakan, “kok nggak ada fotonya, Kang?” inilah hasil perburuan foto-foto jadul itu. Harap maklum kalau tidak SEINDAH WARNA ASLINYA. Satu lagi catatannya : mungkin diantara wajah-wajah yang ada di gambar tersebut sebagian anda kenali, atau jangan-jangan malah anda sendiri, mohon ijin kami publikasikan di sini. Singkat riwayatnya begini, rupa-rupanya begitu membaca postingan ‘Ebeggg…riwayatmu kini..‘ ada seorang pembaca yang merasa tergugah untuk lebih mengingatkan generasi sekarang agar tidak menyia-nyiakan salah satu wujud kesenian tradisional Tegal (an). Dengan susah payang dibukanya kembali album foto semasa kanak-kanak, masa di mana dia disunat. Bukan ingat nyeri saat si buyung dipotong Dukun Sunat, tetapi ingat pertunjukkan Ebeg. Kenangan manis menjadi Pangeran Timur Tengah sehari itu ternyata masih cukup rapi tersimpan, lengkap dengan foto Ebegnya (yang pelakunya sekarang mungkin sudah meninggal). Dimulailan proses pemindaian foto-foto itu dengan hati-hati karena sudah berumur puluhan tahun. Dan hasilnya? seperti yang tampak di halaman ini. Cukup lumayan untuk membantu mereka yang belum pernah menyaksikannya secara langsung.
February 03, 2009
Hasilnya ketika salah satu membuat truk dengan kualitas yang bagus, maka yang lainnya akan berupaya untuk membuat yang lebih bagus lagi. Secara tak sadar mereka tengah membangun iklim kompetisi yang sehat. Tak hanya itu saja, anak-anak tersebut saling memberi support dalam hal barter peralatan pendukung semisal, kayu, ban bekas, paku atau peralatan. Hal ini diperkuat oleh dukungan orang tua, terutama ayah maupun pemuda desa setempat.
Perlu diketahui bahwa setiap malam takbiran pasti mereka akan berkonvoi dengan truk-truk tersebut mengelilingi kecamatan Slawi. |
|