<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>waroengtegal.org</title>
	<atom:link href="http://waroengtegal.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://waroengtegal.org</link>
	<description>.: Moci karo nyantap mendoan :.</description>
	<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 07:20:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Pilkada Tegal, Keinginan dan Harapan</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/10/23/pilkada-tegal-keinginan-dan-harapan/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/10/23/pilkada-tegal-keinginan-dan-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 06:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kanghasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[pilkada tegal]]></category>

		<category><![CDATA[tegal]]></category>

		<category><![CDATA[warteg]]></category>

		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.org/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari menjelang peringatan ke 80 Sumpah Pemuda kelak, tepatnya 26 Oktober 2008, dua wilayah yang menyandang predikat Tegal (Kota Tegal dan Kabupaten Tegal) serentak menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah. Jauh-jauh hari, hingar bingar pesta demokrasi itu sudah bergemuruh seiring dengan bereskalasinya suhu serta dinamika politik di wilayah yang membentang antara Laut Jawa hingga lereng Gunung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="justify;">Dua hari menjelang peringatan ke 80 Sumpah Pemuda kelak, tepatnya 26 Oktober 2008, dua wilayah yang menyandang predikat Tegal (Kota Tegal dan Kabupaten Tegal) serentak menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah. Jauh-jauh hari, hingar bingar pesta demokrasi itu sudah bergemuruh seiring dengan bereskalasinya suhu serta dinamika politik di wilayah yang membentang antara Laut Jawa hingga lereng Gunung Slamet ini. Ini adalah kali pertama penyelenggaraan PIlkada yang dilaksanakan secara langsung, setelah sebelumnya para kepala daerah tersebut &#8216;dipilihkan&#8217; oleh para anggota legislatif daerah. Kebetulan, pemilihan dilaksanakan dalam suasana dunia yang tengah gagap menghadapi krisis keuangan yang dipicu ambruknya institusi keuangan di Amerika sana. Tentu saja terlalu jauh untuk meletakkan kondisi Tegal dalam barisan yang sejajar dengan pusaran krisis ini. Maka di sini kita akan melihatnya dalam konteks yang sangat lokal saja mengenai apa dan bagaimana harapan kita terhadap kandidat terpilih nantinya.</p>
<p style="justify;">Namun sebelumnya, pertama sekali tentu saja kita berharap meningkatnya suhu politik di daerah ini tidak akan mengganggu semangat kebersamaan dan kekerabatan &#8216;wong tegal&#8217; yang sudah <em>kondang, </em>jiwa gotong royong, <em>blakasuta</em>, dan etos kerja, dan suhu ini hanya mencapai puncaknya usai pelantikan. Setelah itu, ya kembali ke kesibukan masing-masing, <em>ngasab</em>.</p>
<p style="justify;">Yang harus dicermati adalah, menurut saya, hendaknya siapapun yang kelak terpilih akan dapat membawa Tegal ke kancah persaingan dunia modern yang melek teknologi informasi, mampu menggali potensi lokal ke tingkat yang lebih tinggi sehingga Tegal dapat mengejar ketertinggalannya dari daerah lain. Selama ini, barangkali Tegal cukup puas hanya dengan <em>trade mark</em> Warteg sebagai simbol kegigihan dan kesuksesan kaum urban. Harus diakui, sumbangsih para pemilik dan pekerja warteg cukup besar dalam mendongkrak derajat perekonomian. Namun sejujurnyalah dalam konteks mewujudkan misi daerah, warga Tegal seharusnya bekerja menggali potensi daerah, mengembangkan asset lokal, tanpa harus (selalu) berbondong-bondong mendatangi kota-kota besar. Dan, bukankah kita bisa mengandalkan hal lain selain warteg?<span id="more-52"></span></p>
<p style="justify;">Masalahnya, selama ini potensi yang ada belum (tidak) tergarap secara maksimal. Misalnya saja industri yang berbasis pertanian di Tegal yang sebenarnya sangat berpotensi dan bisa menjadi unggulan mengingat sebagian besar wilayahnya adalah lahan subur pertanian. <em>Nggak</em> usah jauh-jauhlah,  industri peralatan pertanian yang tercecer di sepanjang jalan raya Talang-Adiwerna. Mengapa tidak diupayakan agar <em>go national</em> paling tidak. Apalagi secara tradisional mereka sudah cukup teruji ketika menghadapi krisis. Namun, belum pernah kita dengar ada upaya-upaya (pemerintah) yang bisa mengangkat sektor ini ke kancah yang lebih itu (nasional) sehingga produknya bisa memenuhi kualifikasi atau standar tertentu yang diakui &#8216;dunia industri modern&#8217;. Pemerintah bisa menggandeng produsen besar sebagai mitra dengan jalan membuka pintu investor selebar-lebarnya melalui promosi atau kegiatan-kegiatan lain.</p>
<p style="justify;">Di sektor pertanian, yang menjadi mata pencaharian pokok sebagian besar warga, juga tidak terlihat munculnya produk-produk andalan. Sebagian besar pertanian masih bercorak tradisional. Padalah kalau dilihat potensinya amat besar. Sebagai contoh daerah lereng Gunung Slamet adalah daerah yang subur dan bagus untuk pertanian/perkebunan. Akan tetapi selama ini, pola tanam yang dilakukan petani lebih banyak dilakukan secara spekulatif, tidak terprogram. Sehingga ketika terjadi gejolak harga, mereka tidak bisa mengelak dari kerugian. Belum lagi soal pembiayaan untuk modal kerja, pengaturan irigasi, distribusi pemasaran, dan persoalan kelangkaan pupuk, serta persoalan mendasar lainnya.</p>
<p style="justify;">Akibatnya, para pemuda di desa lebih suka berangkat ke kota untuk mencari penghidupan ketimbang mengolah lahan yang mereka miliki. Urbanisasi memang fenomena tidak terelakkan dalam dunia yang bergerak ke arah industrilasisasi. Kota adalah tempat di mana terpusat hampir seluruh lalu lintas uang sehingga mampu menggiring siapapun untuk mencoba keberuntungan. Akan tetapi bukankah tidak semua tenaga kerja yang berangkat ke kota itu memiliki bekal ketrampilan yang cukup? inilah mengapa para tenaga kerja eks Tegal banyak bergerak di sektor informal, kalau tidak mau dikatakan hanya bermain di level bawah atau pinggiran. Peristiwa itu tentu tidak akan terjadi seandainya di desa sendiri mereka sudah cukup tersalurkan potensi kreativitasnya.</p>
<p style="justify;">Sektor yang tidak kalah pentingnya adalah sektor pariwisata. Kecenderungan di daerah-daerah lain dan juga di berbagai negara, sektor pariwisata adalah sektor primadona. Mudah dipahami karena dengan sektor ini uang akan mengalir dari mereka yang datang berwisata. Pepatah lama mengatakan ada kunjungan tamu berarti ada rejeki. Mengapa? sebab kunjungan berarti juga modal masuk. Semakin betah seseorang di suatu tempat akan semakin banyak uang yang dibelanjakan. Tamu juga sangat efektif dalam mengangkat pamor daerah. Melalui cerita dan pengalaman berkunjung mereka bisa menularkan kesan terhadap orang lain.</p>
<p style="justify;">Sekarang kita lihat bagaimana manajemen periwisata di Tegal? Dari sisi potensi Tegal tidaklah kalah dibandingkan dengan daerah lain, malah dalam beberapa hal lebih unggul. Namun, persoalannya masih klasik. Sarana dan prasarana wisata yang masih minim sehingga kenyamanan wisatawan sedikit terganggu. Soal yang kecil misalnya pengaturan parkir yang semrawut.</p>
<p style="justify;">Melalui pariwisata sebenarnya banyak hal lain yang bisa dijual. Asset berupa budaya dan kesenian lokal yang selama ini terpendam bisa disalurkan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat festival atau semacamnya. Di Kota Tegal sudah digagas kawasan Tegal Laka-laka, namun belum di tempat lainnya.</p>
<p style="justify;">Mekaten Pak/Bu Bupati/Wakil Bupati/Walikota/Wakil Walikota Tegal yang akan mengemban amanat <em>wong tegal</em> sekedar saran rembug dari saya. Nah <em>sedulur</em>, <em>sampeyan</em> bisa saja punya opini yang berbeda. Semakin banyak ide semakin banyak pilihan, dan mudah-mudahan semakin arif ketika keputusan diambil.</p>
<p style="justify;"><em>Kepareng,&#8230;</em></p>
<p style="left;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/10/23/pilkada-tegal-keinginan-dan-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Memilih Tegal 1</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/10/22/pesta-memilih-tegal-1/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/10/22/pesta-memilih-tegal-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 15:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>traju</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[kabupaten tegal]]></category>

		<category><![CDATA[kota tegal]]></category>

		<category><![CDATA[pilkada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.org/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hitungan hari, masyarakat Kota&#38;Kabupaten akan melaksanakan pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin Tegal untuk lima tahun mendatang. Pelaksanaan Pilkada di kedua daerah itu dilaksanakan bersamaan pada tanggal 26 Oktober 2008.
Pilkada di Kabupaten Tegal menghadirkan empat pasangan, yaitu pasangan Agus Riyanto-Moch Hery Soelistiawan dari PDIP, Andhika Regalita-Dul Basir dari calon perseorangan, A Ghautsun-Abdul Fikri dari Golkar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Dalam hitungan hari, masyarakat Kota&amp;Kabupaten akan melaksanakan pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin Tegal untuk lima tahun mendatang. Pelaksanaan Pilkada di kedua daerah itu dilaksanakan bersamaan pada tanggal 26 Oktober 2008.</p>
<p style="text-align: justify">Pilkada di Kabupaten Tegal menghadirkan empat pasangan, yaitu pasangan Agus Riyanto-Moch Hery Soelistiawan dari PDIP, Andhika Regalita-Dul Basir dari calon perseorangan, A Ghautsun-Abdul Fikri dari Golkar dan PKS, serta pasangan M Hamam-Dimyati dari PKB dan PAN.</p>
<p style="text-align: justify">Sementara Pilkada Kota Tegal diikuti lima pasangan, yaitu pasangan Mukti Agung Wibowo-Heru Gunawan dari calon perseorangan, M Basri Budi Utomo-Eliana Ayu Soraya dari PKB, Agil Riyanto Darmowiyoto-Harun Abdi Manaf dari koalisi Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB ) dan PAN, Ristanto-Kunharjanti S dari Golkar, dan pasangan Ikmal Jaya-Habib Ali Zaenal Abidin dari PDIP.</p>
<p style="text-align: justify">Segenap komponen masyarakat Tegal yang mempunyai hak pilih akan menyalurkan aspirasinya untuk memilih pemimpinnya sesuai hati nurani dan keyakinannya. Sebagai warga Tegal yang baik sudah seharusnya kita semua menyalurkan hak suara kita ke TPS terdekat, tapi untuk mereka yang berkeyakinan bahwa tidak memilih adalah juga sebuah pilihan hendaknya kita juga menghormati keyakinan mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Pada dasarnya siapapun yang nantinya menjadi Tegal 1, anda adalah orang terpilih dari sekian juta penduduk tegal, jabatan yang ada di pundak Anda adalah sebuah AMANAT untuk membawa Tegal menjadi lebih baik di hari mendatang..Untuk semua pasangan calon Walikota dan Bupati serta pendukungnya belajar berpolitik yang santun, dewasa dan cerdas adalah modal awal menuju Tegal yang maju. Akhirnya mari kita berpesta&#8230;tapi eling kabeh sedulur, aja pada tawur, aja pada gelut aja pada anarkis&#8230;berpestalah dengan cerdas!!</p>
<p style="text-align: justify">Untuk para pembaca yang budiman silahkan Anda bisa memberi opini apa yang Anda inginkan dari sosok Tegal 1 (rule: bukan berupa dukungan untuk salah satu calon, menjelekkan/mengunggulkan salahsatu calon ataupun kampanye terselubung).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/10/22/pesta-memilih-tegal-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Never Ending Batik</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/07/08/never-ending-batik/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/07/08/never-ending-batik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 05:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arrie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[batik]]></category>

		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.org/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Siapa sih yang nggak tau batik? Kain dengan motif bunga-bungaan, dedaunan, hewan, perpaduan titik, garis-garis bergelombang, berwarna coklat. Orang Indonesia, khususnya Jawa identik sekali dengan batik. Sebetulnya tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki kerajinan menghias kain yang dikenal dengan kerajinan kain batik. Hanya saja, tiap daerah memiliki cara pembuatan, corak, dan gaya sendiri-sendiri, yang membedakan antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa sih yang nggak tau batik? Kain dengan motif bunga-bungaan, dedaunan, hewan, perpaduan titik, garis-garis bergelombang, berwarna coklat. Orang Indonesia, khususnya Jawa identik sekali dengan batik. Sebetulnya tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki kerajinan menghias kain yang dikenal dengan kerajinan kain batik. Hanya saja, tiap daerah memiliki cara pembuatan, corak, dan gaya sendiri-sendiri, yang membedakan antara batik dari Jawa dan batik dari Papua, atau batik dari Jawa Tengah atau batik dari Jawa Barat.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://img295.imageshack.us/img295/1886/batikznw2.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Contoh kain batik Tegal</em>.</p>
<p>Batik yang ada di Jawa, memiliki beberapa kesamaan, antara lain kain yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sama, biasanya adalah kain mori atau sutera. Untuk teknik pembuatannya, biasanya digunakan malam, yaitu zat semacam lilin berwarna coklat muda hingga agak hitam. Untuk dapat menggunakan malam untuk membatik, malam harus dipanasi terlebih dahulu di atas perapian, kemudian malam tersebut digambarkan di atas kain mori dengan menggunakan alat bantu yaitu canting. Motif yang digambarkan dengan malam, merupakan bagian kain yang dikecualikan dalam pewarnaan. Setelah jadi, motif yang digambar dengan malam akan tetap berwarna putih sesuai warna kain yang digunakan. Setelah dibuat motif batik, kain bisa diberi warna. Zat pewarna yang digunakan bisa zat pewarna sintetik, maupun pewarna alami. Saat ini pewarna alami sudah jarang digunakan, karena proses pewarnaannya relaif lebih lama dibandingkan bila menggunakan pewarna sintetik. Dalam perkembangannya, batik juga sudah tidak lagi ditulis atau digambar manual dengan tangan menggunakan <em>malam</em>, melainkan diproduksi dengan menggunakan cap. Jadi, pola batik sudah disediakan, tinggal diaplikasikan pada kain, lebih efisien waktu dan tenaga.<span id="more-51"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://img514.imageshack.us/img514/2842/batiqni7.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Ibu-ibu pengrajin batik, lengkap dengan kain, canting, kompor, dan malamnya</em>.</p>
<p>Di daerah Tegal dan sekitarnya, terdapat kerajinan batik juga. Mungkin karena masih serumpun dengan Pekalongan yang khas dengan batik. Daerah produksinya ada beberapa di Kec. Talang, Kec. Tarub, dan Kec. Adiwerna. Jenis batik yang diproduksi yaitu batik tulis/gambar manual dengan tangan. Produsennya masih perorangan dalam skala yang kecil. Jumlah produksinya terkadang masih disesuaikan dengan pesanan konsumen karena lingkup pemasarannya juga tidak terlalu luas. Pemasarannya masih secara perorangan dari produsen langsung, di toko-toko pakaian atau di pasar-pasar tradisional, kerana memang belum ada pasar khusus batik di Tegal.</p>
<p>Corak dan gaya batik Tegal mirip dengan corak dan gaya batik daerah Pekalongan atau Semarang, karena di daerah Jawa Tengah sendiri, ada ciri khas tersendiri daam gaya dan corak batik yang diproduksi di daerah pesisir utara. Hal yang paling mudah dikenali adalah dari sisi warna. Aplikasi warna batik pesisir lebih berani, berani dalam pemberian warna cerah untuk pewarnaan kain dibandingkan dengan batik dari daerah selatan, misalnya Jogja dan Solo.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://img146.imageshack.us/img146/3538/batiqsve4.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Pemakaian batik dalam upacara adat</em>.</p>
<p>Perkembangan batik di Tegal memang tidak terlalu pesat, karena sepertinya hanya golongan masyarakat lanjut usia yang masih eksis mengenakan batik. Agaknya produsen batik cukup terbantu dengan aturan Pemerintah Daerah yang mewajibkan pegawai dan staf yang bekerja pada instansi milik pemerintah untuk menggunakan baju batik khas Tegal untuk hari-hari tertentu. Selain itu, bisa dikatakan bahwa tren 2008 adalah batik, entah itu sebagai promosi Visit Indonesia Year 2008 atau hanya tren tahunan seperti biasa, namun hal itu pastinya baik untuk pelestarian budaya batik, dan baik pula untuk perkembangan batik lokal seperti batik Tegal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/07/08/never-ending-batik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Happy Birthday</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/07/07/happy-birthday/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/07/07/happy-birthday/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 04:39:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arrie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[birthday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.org/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya, yang namanya ulangtahun, identik dengan perayaan, kue tart, setidaknya tumpeng sebagai ucapan syukur diberi umur yang panjang. Tapi, Waroeng Tegal beda, di ulang tahunnya yang pertama yaitu hari ini (7 Juli 2008), tak ada perayaan megah, tak ada kue tart, bahkan sekedar tumpeng pun tiada. Waroeng Tegal hanya merayakan dengan perubahan kecil yang nantinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya, yang namanya ulangtahun, identik dengan perayaan, kue tart, setidaknya tumpeng sebagai ucapan syukur diberi umur yang panjang. Tapi, Waroeng Tegal beda, di ulang tahunnya yang pertama yaitu hari ini (7 Juli 2008), tak ada perayaan megah, tak ada kue tart, bahkan sekedar tumpeng pun tiada. Waroeng Tegal hanya merayakan dengan perubahan kecil yang nantinya diharapkan bisa membawa nama Waroeng Tegal menjadi besar. Cara bersyukur Waroeng Tegal hanya dengan sedikit merubah diri dan berbenah. Merubah diri?</p>
<p>Ya, Waroeng Tegal yang tadinya eksis dengan layanan blog free <a title="WT on WP" href="http://waroengtegal.wordpress.com">Wordpress</a>, sekarang sudah <a title="WTO" href="http://waroengtegal.org">punya rumah sendiri</a>. Mungkin saat ini tampilannya masih sangat sederhana, karena di Waroeng Tegal ini kita sama-sama tumbuh, sama-sama belajar, sama-sama berbagi, akan lebih baik bila dalam pengembangannya, Waroeng Tegal mendapat saran dan kritik membangun untuk memperbaiki dan terus memajukan Waroeng Tegal, sebagai Komunitas Blogger Tegal dan Sekitarnya.</p>
<p style="text-align: center;"><a title="WTO" href="http://waroengtegal.org"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black; vertical-align: middle;" src="http://img357.imageshack.us/img357/5909/wtqr0.jpg" alt="" width="590" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Waroeng Tegal yang baru!</em></p>
<p>Besar harapan dari saya, sebagai member, dan mungkin juga ribuan member lain, agar selangkah kemajuan Waroeng Tegal ini disusul dengan semakin banyaknya member Waroeng Tegal, semakin banyak yang posting, juga semakin memajukan Tegal tak hanya di blogosphere, namun juga Tegal yang sebenarnya.</p>
<p>Selamat Ulang Tahun Waroeng Tegal, tetep <strong>moci karo nyantap mendoan</strong>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/07/07/happy-birthday/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tegal, Jepang a la Indonesia</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/06/04/umkm/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/06/04/umkm/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 10:48:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arrie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[asli tegal]]></category>

		<category><![CDATA[potensi tegal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Tegal, sudah dikenal banyak orang sebagai pusat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tak heran Kabupaten Tegal disebut Jepangnya Indonesia. Dari industri tahu, konveksi, kompor, sampai industri mesin kapal hampir semuanya ada, lengkap. Sentra-sentra UMKM pun banyak bermunculan di banyak sisi di Tegal, khususnya Kabupaten Tegal. Sentra-sentra tersebut berlokasi antara lain di Kec. Adiwerna, Kec. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span>Tegal, sudah dikenal banyak orang sebagai pusat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tak heran Kabupaten Tegal disebut Jepangnya Indonesia. Dari industri tahu, konveksi, kompor, sampai industri mesin kapal hampir semuanya ada, lengkap. Sentra-sentra UMKM pun banyak bermunculan di banyak sisi di Tegal, khususnya Kabupaten Tegal. Sentra-sentra tersebut berlokasi antara lain di Kec. Adiwerna, Kec. Talang, dan Kec. Dukuhturi. Di daerah tersebut, hampir tiap rumah dijadikan bengkel usaha, dari yang skala kecil yang dikerjakan perorangan, keluarga, sampai mempunyai pekerja yang jumlahnya cukup banyak. Pemasaran dari produk tersebut sudah meluas tidak hanya mencukupi kebutuhan Kabupaten Tegal sendiri, namun juga sampai ke Kabupaten lain, Provinsi lain, bahkan diekspor ke luar negeri.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span><img src="http://img87.imageshack.us/img87/8404/industrikecil2sk9.jpg" alt="UMKM1" /></span></p>
<p style="text-align:center;">Retailer perabot rumah tangga dari logam.</p>
<p style="text-align:justify;"><span>Sudah barang tentu, UMKM ikut menyumbang pendapatan daerah melalui PAD. Untuk meningkatkannya bukan hanya keinginan produsen secara parsial, tapi menjadi keinginan bersama antara masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Tegal. Di era otonomi daerah seperti sekarang, daerah harus pandai-pandai menciptakan pendapatan.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span><img src="http://img80.imageshack.us/img80/2751/industrikecilal9.jpg" alt="UMKM2" /></span></p>
<p style="text-align:center;">Retailer kubah masjid.</p>
<p style="text-align:justify;"><span>Pemerintah sebagai regulator berperan penting dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Tegal. Pemerintah dapat memberikan fasilitas kredit mikro yang lebih mudah untuk permodalam UMKM. Selain itu, secara fisik pemerintah dapat melakukan promosi produk buatan Tegal, seperti yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki ruang pajang produk industri khususnya UMKM. Cara lainnya yaitu dengan mengikuti pameran produk UMKM di luar wilayah Tegal untuk mempromosikan produk buatan Tegal. Hal tersebut memang sudah beberapa kali dilakukan, beberapa waktu yang lalu Kabuapten Tegal telah berpartisipasi dalam pameran Kabupaten se-Indonesia. Namun hal itu dirasa masih kurang melihat potensi UMKM di Tegal yang masih bisa untuk terus dikembangkan.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/06/04/umkm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Warteg, Nasi Goreng, Tetap Semangat..!</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/05/09/warteg-nasi-goreng-tetap-semangat/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/05/09/warteg-nasi-goreng-tetap-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 08:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kanghasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.wordpress.com/2008/05/09/warteg-nasi-goreng-tetap-semangat/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku baca di koran nasional sebuah berita tentang dampak kenaikan harga aneka macam bahan pokok terhadap para pengusaha Warung Tegal (Warteg). Kenaikan harga pada hampir semua bahan pokok telah membuat biaya produksi menjadi mahal yang berujung pada naiknya harga menu makanan yang disajikan. Padahal, pangsa pasar warteg adalah mereka yang sensitif terhadap kenaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Hari ini aku baca di koran nasional sebuah berita tentang dampak kenaikan harga aneka macam bahan pokok terhadap para pengusaha Warung Tegal (Warteg). Kenaikan harga pada hampir semua bahan pokok telah membuat biaya produksi menjadi mahal yang berujung pada naiknya harga menu makanan yang disajikan. Padahal, pangsa pasar warteg adalah mereka yang sensitif terhadap kenaikan harga. Bisa dibayangkan yang terjadi kemudian adalah menurunnya omzet.</span><span id="more-45"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Warteg, sejarah kelahirannya konon memang berawal dari tempat mangkalnya para pekerja bangunan ketika proyek-proyek pembangunan kota sedang digalakkan. Mereka menyediakan makan untuk para kuli bangunan yang umumnya berasal dari desa. Maka pada awalnya warteg selalu berada di sekitar proyek.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Perkembangan selanjutnya adalah generasi penerus Warteg mulai melebarkan sayap bisninsnya dengan membuka warung makan di tempat lain. Mereka menangkap peluang bahwa pangsa pasarnya masih terbuka luas di luar proyek. Urbanisasi tidak hanya membawa kaum pekerja bangunan ke kota. Pabrik, kantor, pasar, terminal, dan sekolah pun memberi andil bagi mengalirnya kaum urban ke kota besar. Sementara restoran kota terlampau angkuh untuk melayani kalangan mereka. Maka hingga sekarang, kita bisa menjumpai warteg di hampir setiap sudut kota Jakarta dan sekitarnya. Dan tetap dengan cirinya : harga terjangkau (murah) dan <em>wareg</em> (kenyang).<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Kini, ketika harga-harga bahan kebutuhan pokok saling berlomba naik, warteg menghadapi tantangan yang dilematis. Di satu sisi, untuk tetap bertahan saja mau tidak mau harga harus &#8216;disesuaikan&#8217;. Sementara di lain pihak, daya beli pelanggan setianya sudah merosot akibat penghasilannya yang terbatas sudah banyak tersedot untuk menutupi kebutuhan yang lain.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Selain Warteg, kondisi serupa telah lebih dulu menimpa para pedagan kaki lima (yang juga kebetulan orang tegal) yang tersebar di seantero kota besar di Jawa Barat. Mereka terutama adalah para penjual nasi goreng dengan tenda yang dipajang di emperan toko. Ketika harga minyak goreng melonjak mencapai angka Rp 11.000,00, keuntungan sudah banyak banyak terkuras, dan semakin berkurang ketika harga minyak tanah mencapai Rp 7.000,00, cabai, beras, daging ayam, telur juga kompak naik.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Salah satu trik yang dilakukan untuk menyiasati naiknya biaya produksi adalah dengan mengurangi porsi atau ukuran makanan. Porsi nasi yang membukit sepiring penuh dikurangi, mendhoan tempe dipangkas hingga separuhnya, rendang daging dipotong lebih kecil dari biasanya, telur dadar? dikonsumsi sepiring berdua (kaya lagunya Ida Laela), dan seterusnya. Ternyata itu pun tidak banyak menolong. Menu daging atau telur barangkali hanya disantap seminggu sekali, selebihnya? Nasi sama (kuah) sayur <em>forever</em>….(jadi ingat jaman kuliah ketika habis bulan). Sebabnya ya itu tadi, daya beli pasar sudah pada titik nadir.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Kalau sudah begitu dari mana lagi mengharapkan <em>margin</em> keuntungan? Alih-alih mengharapkan untung, sekedar bisa mengembalikan modal uang belanja buat esok hari pun sudah sukar. Barangkali hanya keyakinan bahwa setiap orang pasti butuh makan, itu saja yang menguatkan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Ketika masih dipusingkan dengan kondisi sulit ini, pemerintah sudah berancang-ancang hendak menaikkan harga BBM. Alasannya klise, demi menyelamatkan APBN. Sudah terbayang bagaimana kelanjutan cerita mengenai hal ini. Kalau dikatakan Pak Sastoro sampai hari ini sudah ada sekitar 7000 an warteg yang tutup, mungkin setelah Juni 2008 (ketika peresmian kenaikan harga BBM diluncurkan) akan ada lebih banyak lagi yang menyusul, bangkrut.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Warteg dan pedagang kaki lima itu sebenarnya hanyalah simbol dari kegigihan upaya bertahan hidup di tengah dominasi kapitalisme. Mereka sebenarnya contoh nyata kemandirian tanpa banyak kata dan slogan. Tak mengharapkan kucuran kredit bank (dan jelas tak akan mungkin), tidak mengharapkan fasilitas pemerintah, mereka langsung berhadapan sendiri dengan kerasnya persaingan hidup.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Setia dengan gaya hidup sederhana di kota besar (meskipun di kampung rumahnya megah), mereka bukan tipe kacang yang lupa akan kulitnya. Kita bisa menyaksikan betapa besar kontribusi yang diberikan terhadap daerah asalnya. Mulai dari pembangunan tempat ibadah sampai jalan dan sekolah, tanpa <em>bargaining</em> macam-macam. Bagi mereka, kota adalah sekedar sawah untuk bercocok tanam. Sedangkan kampung halaman adalah rumah yang tak tergantikan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Sayangnya, dalam dunia kapitalistis sekarang ini, wacana yang dominan adalah modernisasi. Sehingga kehadiran mereka hanya dipandang sebagai sektor informal. Informal itu kebalikan dari formal (resmi, diakui). Implikasi dari wacana yang tidak <em>fair</em> ini adalah bahwa mereka hanya dipandang ada setelah yang formal terlebih dahulu diperhitungkan, didengarkan.  Dalam pembahasan di ruang politik kebijakan, sektor ini menjadi anak tiri (meskipun pada saat kampanye menjadi ajang rebutan). Setara dengan nasib para TKI di luar negeri. Mereka disanjung dengan slogan sebagai pahlawan devisa karena mengalirkan dolar atau rupiah ke kantong-kantong kemiskinan. Hanya itu yang boleh dikirim, jangan cerita sedih kekjejaman majikan. Karena cerita sedih akan mematahkan semangat calon-calon pahlawan baru.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">Bandung, Mei 2008<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;">KH</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/05/09/warteg-nasi-goreng-tetap-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ebeg, Riwayatmu Kini…</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/05/02/ebeg-riwayatmu-kini%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/05/02/ebeg-riwayatmu-kini%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 07:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kanghasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.wordpress.com/2008/05/02/ebeg-riwayatmu-kini%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin pernah dengar sepenggal bait lagu karya Bang Haji Roma Irama yang bercerita tentang pertunjukan kuda lumping (ini kalimat nggak pake SPOK-Red). Begini antara lain syairnya :

…Ada satu permainan, permainan unik sekali

Orang naik kuda, tapi kuda bohong

Namanya kuda lumping…

 Seterusnya lagu itu bercerita bahwa yang naik &#8216;kuda bohong&#8217; itu orangnya kesurupan. Bisa makan rumput, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Mungkin pernah dengar sepenggal bait lagu karya Bang Haji Roma Irama yang bercerita tentang pertunjukan kuda lumping (<em>ini kalimat nggak pake </em>SPOK-<em>Red</em>). Begini antara lain syairnya :<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">…Ada satu permainan, permainan unik sekali<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Orang naik kuda, tapi kuda bohong<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Namanya kuda lumping…<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Seterusnya lagu itu bercerita bahwa yang naik &#8216;kuda bohong&#8217; itu orangnya kesurupan. Bisa makan rumput, bisa makan padi, bahkan bisa makan kaca. Sehingga kalau menonton tidak boleh dari dekat karena akibatnya bisa berbahaya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">…Aduhai ngeri sekali…</span><span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Pertunjukkan ini di daerah saya (Kabupaten Tegal, bagian selatan khsusnya) amat terkenal. Entah, belum ada studi yang mendalami sejarah dari mana asal muasalnya. Mungkin tidak terlalu menarik, atau mungkin karena pertunjukkan itu tidak dianggap sebagai suatu hasil dari proses kreatif manusia pelakonnya. Sepintas memang hanya &#8216;pertunjukkan&#8217; orang-orang kesurupan, menari-nari tidak karuan, dan lebih kental suasana magisnya. Busana yang dikenakannyapun tidak istimewa.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Tetapi kalau kita bilang &#8216;pertunjukan&#8217;, mau tidak mau sebenarnya kita harus memberi ruang juga untuk mengakajinya sebagai salah satu produk budaya, sebuah seni, mungkin. Terlepas apakah yang dinamakan seni itu harus memiliki standar estetika atau cita rasa tertentu atau tidak (yang mungkin ini tidak ada dalam pertunjukan itu, setidaknya menurut ukuran seni yang umum).<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Ah, sudahlah. Mau dikaji atau tidak, <em>toh,</em> pertunjukan itu tetap ada dan digemari, ditunggu, sekaligus juga dinikmati. Seni juga kan tidak mewajibkan semua orang untuk suka.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Di desa saya (<em>ini lho, maunya</em>-Red), pertunjukkan ini agak sedikit berbeda dengan yang digambarkan Bang Haji. Kuda lumping di sini tidak melulu disajikan dalam sebuah arena untuk kemudian ditonton. Pun bukan dalam rangka pertunjukan itu sendiri. Tetapi atas permintaan orang yang mau &#8216;<em>nanggap</em>&#8216;. Biasanya karena orang tersebut sedang berhajat mengkhitankan anaknya. Maka pertunjukkannya melalui sebuah prosesi arak-arakan keliling desa. Arak-arakan dimulai dari tempat &#8216;<em>janturan</em>&#8216;( prosesi pemanggilan roh oleh dukun untuk masuk ke dalam tubuh penunggang kuda, disebut &#8216;<strong>Ebeg&#8217;</strong>) di kaki gunung, atau di tempat-tempat yang sepi di pinggiran desa, menuju rumah <em>sohibul hajat</em>. Sebenarnya iring-iringan itu dalam rangka mengarak &#8216;pengantin sunat&#8217; yang dinaikkan ke atas seekor kuda (yang ini kuda beneran). Didandani ala pangeran timur tengah lengkap dengan kaca mata hitamnya. Diiringi tetabuhan rebana dan kendang yang dinamakan <em><strong>terbang kencer</strong></em> sambil melantunkan shalawat badar.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Tetapi justeru para Ebeg itu, yang jumlahnya selalu 3 orang, malah berlari ke sana kemari sepanjang jalan sehingga iring-iringan selalu tercerai berai. Mengapa? Karena para penontonnya, terutama para pria dewasa, <em>madani</em> alias memanggil-manggil nama Ebeg, dengan intonasi tertentu kadang mengejek, dan si Ebeg akan mengejarnya. Setelah orang dikejar dan tertangkap? Ebeg punya kebebasan unguk memukul, menyepak, dan menendang &#8216;korbannya&#8217;. Dan tidak ada yang akan marah atau protes. Tetapi biasanya sang pawang akan buru-buru melerainya. Tidak ada dendam atau kemarahan, karena si korban pun tertawa-tawa bangga. Sedangkan si Ebeg, tetap saja nanar tidak berekspresi, <em>trance</em>. Itu aturan tidak tertulis yang semua orang tahu dalam pertunjukkan Ebeg.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Maka bisa ditebak, hanya yang bernyali cukup saja yang berani ikut dalam permainan kejar mengejar itu. Di sinilah uniknya. Sementara para wanita menjerit-jerit menyaksikan, para pria dengan bangga unjuk kejantanan. Dan Sang Pawang dibuat repot oleh ebegnya yang memang kesurupan itu berlari mengejar meski ke luar dari jalan dan belepotan lumpur sawah. Si Pangeran Timur Tengah asyik saja menunggang kuda sambil menyimpan kengerian esok hari burungnya mau disembelih.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Arak-arakan itu pun lebih lambat sampai ke rumah <em>sohibul hajat</em> akibat para ebeg sibuk mengejar mangsa. Kejar mengejar masih dilakukan bahkan ketika ebeg sudah sapai di pelataran rumah dan memasuki sesi unjuk kebolehan. Makan beling, makan rumput, makan duri salak, dan atraksi-atraksi lain yang menggiriskan. Para pemuda selalu mengganggu ebeg dengan teriakan yang mengejek. Itu keanehan yang lain. Meskipun kesurupan, Ebeg selalu mendengar namanya diteriakkan sehingga selalu tergoda untuk berlari mengejar. Mungkin yang terdengar bukan ejekan tetapi semacam panggilan naluriah. Semacam sura &#8216;kung&#8217; dari pejantan kodok di musim kawinnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Tingkat kegalakan ebeg ditentukan oleh seberapa susah ia disadarkan kembali. Proses penyadaran kembali ini pun menjadi tontonan yang tak kalah menarik. Beberapa orang pria yang kuat harus memegangi tangan, kaki, kepala, dan tubuh Ebeg. Kalau tidak, ia akan berlari lagi. Sepertinya roh yang bersemayam di tubuhnya enggan beranjak. Permintaannya pun jadi bermaca-macam, dari air kepala muda hingga <em>soft drink</em>. Semakin lama ebeg bisa disadarkan, semakin galak, semakin terkenal ia sebagai Ebeg papan atas. Tetapi semakin lunglai juga ia kalau sudah sadar dan kembali sebagai manusia. Apalagi, galak atau tidak, honornya sama saja.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Sebenarnya ada &#8216;pemanis&#8217; dalam pertunjukkan tersebut. Yaitu kehadiran sepasang &#8216;aul&#8217;. Mungkin agak mirip dengan ondel-ondel betawi. Hanya ukurannya lebih pendek karena aul ini sebenarnya adalah laki-laki yang &#8216;didandani&#8217;. Masing-masing menganakan baju dari karung goni dan mengenakan topeng merah. Sepanjang jalan hanya lenggak lenggok saja. Mereka juga tetap sadar karena tidak dimasukkan roh halus ke dalam tubuhnya. Tetapi mahluk ini yang paling ditakuti anak-anak. Topengnya berwajah menyeramkan! Entah apa yang hendak digambarkan oleh penggagas pertunjukkan mengenai hal ini. Bisa jadi hendak melambangkan karakter jahat sepasang manusia. Manusia yang mana, belum ada yang tahu.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Setelah prosesi penyembuhan selesai, usai pula rangkaian pertunjukkan kuda lumping. Jalan kembali sepi hanya menyisakan bekas-bekas keriuhan. Tetapi di ruang-ruang pos ronda, beranda rumah, bahkan di langgar, perbincangan ataupun bisik-bisik menjadi semakin hangat. Para pemuda membanggakan diri dan puas karena cewek incarannya pasti menyaksikan. Para wanita mulai bergunjing tentang siapa nama sang jantan di pertunjukkan hari ini. Asal tahu saja, pertunjukkan ebeg selama bertahun-tahun telah menjadi ajang unjuk diri yang cukup efektif dan murah. Para putri berdandan, para pemuda beraksi menjadi yang paling keras dan paling dikejar. Karena di situlah pusat perhatian.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Itu dulu&#8230;jaman berubah, teknologi berkembang dan dengan cepat merangsek jauh ke pelosok desa-desa. Menggantikan semua hal yang bergerak lamban, tradisional, dan <em>nggak gaul</em>. Ketika harga pupuk mulai merangkak naik dan susah didapat, hama padi pun tak mempan dengan asap belerang. Cerita tentang keramaian dan kemudahan mencari nafkah di kota besar memikat nyamuk-nyamuk desa ini untuk bermigrasi. Meninggalkan becek lumpur sawah, menuju keramaian gemerlap cahaya kota. Menjadi apa saja asal halal.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"> Begitulah, kuda lumping pun ikut tersisih di gudang penyimpanan. Tak ada lagi &#8216;tanggapan&#8217;. Tak ada lagi <em>jantur-janturan</em>, tak ada lagi suara terbang kencer mengiringi pangeran timur tengah diarak keliling desa. Sesekali masih tampil di peringatan ulang tahun kemerdekaan. Tetapi itu juga kalah gemerlap oleh kelompok <em>marching band</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">&#8220;…Kuda lumping, nasibnya nungging…&#8221; (kata Swami).<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;">Oleh : KH<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Times New Roman;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/05/02/ebeg-riwayatmu-kini%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Randu Alas</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/04/07/randu-alas/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/04/07/randu-alas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 09:50:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nyante]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[unik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bahasa latin dikenal dengan istilah bommbax ceiba ada juga yang menyebutnya Bombax malabaricum tapi dari kecil saya mengenalnya dengan nama RANDU ALAS.

Pohon ini sebenarnya seperti umumnya pohon kapuk randu yang biasa dijadikan sebagai bahan untuk membuat kasur atau bantal. Yang membedakan adalah ukurannya baik tinggi maupun diameternya lebih besar dari jenis pohon randu biasa.Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Dalam bahasa latin dikenal dengan istilah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Randu_alas"><em>bommbax ceiba</em></a> ada juga yang menyebutnya<em> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Randu_alas)" target="_self">Bombax malabaricum</a></em> tapi dari kecil saya mengenalnya dengan nama RANDU ALAS.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><img style="vertical-align:baseline;" src="http://i97.photobucket.com/albums/l210/6uanten9/24012008148.jpg" alt="" width="489" height="651" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Pohon ini sebenarnya seperti umumnya pohon kapuk randu yang biasa dijadikan sebagai bahan untuk membuat kasur atau bantal. </span><span id="more-43"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Yang membedakan adalah ukurannya baik tinggi maupun diameternya lebih besar dari jenis pohon randu biasa.Dan randu alas ini sering ditemui dihutan atau perbukitan makanya orang menamakan randu alas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Nah , yang akan saya ceritakan ini adalah pohon randu alas yang terletak di daerah slawi. Jika anda melewati jalan protokol Slawi-Purwokerto akan mudah mengenalinya karena letaknya yang dipinggir jalan dan ukurannya yang besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Tidak seperti namanya (alas) ia tumbuh di daerah pemukiman penduduk. Sewaktu saya kecil, zaman keemasan <em>porkas dan sdsb</em> tempat ini terkenal untuk mereka yang <em>nglothang</em> demi untuk mendapatkan <em>wahyu impen</em> untuk dijadikan kode buntut, berjudi mengundi nasib. Selain itu tempat ini sempat dikeramatkan karena sekitarnya semak belukar yang semrawut. Tetapi sekarang sudah tidak lagi, sudah rapi dan bersih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Sayangnya keberadaan randu alas yang cukup unik ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai alternatif rekreasi atau hiburan. Mengingat di dekat keberadaan randu alas ada toko penjual macam-macam makanan khas tegal, salah satu yang paling dikenal oleh masyarakt slawi adalah <em>tahu pletog</em> randu alas. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Semoga para pejabat pemda kabupaten tegal segera menata dan mengelola keberadaannya agar dapat dijadikan sebagai salah satu objek atau tempat yang menarik perhatian masyarakat. Yang pasti randu alas akan tetap terdiam kokoh misterius menjulang menatap langit.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/04/07/randu-alas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Asli Tegal</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/03/13/asli-tegal/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/03/13/asli-tegal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 09:47:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nyante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.wordpress.com/2008/03/13/asli-tegal/</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda seorang perantau atau setidaknya tinggal di luar daerah, rasanya jamak jika ditanya darimana asalnya. Seperti saya misalnya yang sudah hampir 12 tahun tinggal di negeri orang, sering orang –orang menanyakan darimana saya berasal. Nah ketika saya katakan aslinya dari “tegal” selalu dapat tanggapan yang beragam, seperti:

Ngapak-ngapak

Saya dengar pertama kali saat tinggal di Jogja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jika anda seorang perantau atau setidaknya tinggal di luar daerah, rasanya jamak jika ditanya darimana asalnya.<span> </span>Seperti saya misalnya yang sudah hampir 12 tahun tinggal di negeri orang, sering orang –orang menanyakan darimana saya berasal. Nah ketika saya katakan aslinya dari “tegal” selalu dapat tanggapan yang beragam, seperti:</span></p>
<ol>
<li><span>Ngapak-ngapak<br />
</span></li>
<p style="text-align:justify;"><span>Saya dengar pertama kali saat tinggal di Jogja, dan rata-rata orang jogja, solo, semarang serta jawa timur memberikan<span> </span>komentar ini. Dan sebagian biasanya menambahi “inyong–pangiyongan”</span></p>
<li><span>Warteg</span></li>
<p style="text-align:justify;"><span>Ini adalah komentar standar, dan biasanya mereka bilang “wah Bos warteg nih?” Tapi beberapa orang suka bertanya yang saya pikir konyol. Mereka bertanya kalo di Tegal “warteg” namanya apa?</span></p>
<li><span>Guci</span></li>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;"><span>Nah, kalo yang ini biasanya mereka yang sudah pernah merasakan khasiat belerang dari lereng slamet.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--></p>
<li><span>Poci</span></li>
<p style="text-align:justify;"><span>Jelas ini adalah tanggapan mereka para penikmat “wasgitel”, biasanya mereka suka bertanya dimana letak kebun tehnya.Masih menanyakan itu karena tegal adalah dataran rendah dan berhawa panas.</span></p>
<li><span>Parto</span></li>
<p style="text-align:justify;"><span>Dulu saat saya masih kuliah di Jakarta teman-teman saya sering meminta untuk bicara dalam bahasa tegal katanya lucu mirip parto. Emang parto orang tegal? </span></p>
<li><span>Tahu</span></li>
<p style="text-align:justify;"><span>Biasanya komentar ini dilontarkan oleh mereka yang pernah dapet oleh-oleh tahu aci.</span></p>
<li><span>Pilus</span></li>
<p style="text-align:justify;"><span>Mirip dengan mereka yang berkomentar tentang tahu, tapi biasanya lebih banyak ibu-ibu dan mereka yang hobi makan bakso.</span></p>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Selain itu sebenarnya masih ada beberapa komentar atau tanggapan dari orang-orang seperti: soto pak jenggot, sate,kacang bogares,sampai dodol atau telor asin.Meskipun beberapa orang dalam member tanggapan ada yang bernada merendahkan atau mengolok-olok tapi saya tidak pernah malu atau berkecil hati,. Akan tetap saya katakan ke semua orang yang bertanya “inyong asli tegal”! dan saya bangga mengatakannya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/03/13/asli-tegal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Monumen GBN Slawi</title>
		<link>http://waroengtegal.org/2008/02/12/monumen-gbn/</link>
		<comments>http://waroengtegal.org/2008/02/12/monumen-gbn/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 05:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bangunan dan Fasilitas Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waroengtegal.wordpress.com/2008/02/12/monumen-gbn/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau tidak salah dulu namanya adalah Monumen GBN (Gerakan Banteng Nasional), tapi orang Slawi dan sekitarnya menybutnya cukup monumen saja. Orang tua saya bilang monument dibangung sekitar tahun 1977 s.d. 1978, tapi tahun persis tepatnya tidak tahu.

Foto Monumen GBN sekarang

Sewaktu saya masih di Taman Kanak-kanak monumen adalah tempat tujuan berdarma wisata.Selain jaraknya yang tidak terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kalau tidak salah dulu namanya adalah Monumen GBN (Gerakan Banteng Nasional), tapi orang Slawi dan sekitarnya menybutnya cukup monumen saja. Orang tua saya bilang monument dibangung sekitar tahun 1977 s.d. 1978, tapi tahun persis tepatnya tidak tahu.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://i97.photobucket.com/albums/l210/6uanten9/23012008146.jpg" alt="monumen" border="2" height="270" width="360" /></div>
<div align="center"><title></title>Foto Monumen GBN sekarang</div>
<p><span id="more-39"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sewaktu saya masih di Taman Kanak-kanak monumen adalah tempat tujuan berdarma wisata.Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, tentunya murah – meriah. Sambil kami menikmati bekel yang dibawa dari rumah Bu Pur Guru TK kami bercerita “ Anak-anak sesuai namanya monmen GBN ini dibangun untuk mengenang dan menghormati para pahlawan yang telah berhasil menumpas gerombolan pemberontak”. Di wilayah Tegal, Berebes dan sekitarnya pernah terjadi gerakan maker merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"> Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang gembong yang terkenal sadis suka menculik dan tidak segan-segan membunuh rakyat, namanya KUTIL. Dan untuk membersihkan gerombolan ini Pimpinan TNI pada waktu itu Jendral Ahmad Yani menugaskan TNI untuk menumpasnya bersama rakyat bahu-membahu, dan perjuangan membersihkan pemberontakan ini dikenal dengan nama GERAKAN BANTENG NASIONAL. Nah semua cerita perjuangan itu digambarkan pada dinding relief. Dan untuk menghormati serta mengenang jasanya maka di sebelah bagain selatan dibuatkan patung Jenderal Ahmad Yani, sementara di bagian utara untuk menggambarkan perwujudan manunggalnya ABRI dan Rakyat dibuat patung seorang anggoata ABRI dan pak tani.Sementara pada dua menara putih terpasang paling atas Burung Garuda Pancasila, dan lamabang ABRI (tiga angkatan dan POLRI). Jika diukur tinggi kedua menara yang paling tinggi adalah 17 meter, yang lebih pendek tingginay 8 meter. Sementara panjang dinding relief yang menceritakan perjuangan tadi adalah 45 meter. Oleh karena itu kita waijb harus menjaga dan merawatnya kata Bu Pur menutup ceritanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"> Semasa saya di bangku SD selama enam tahun monumen adalah segalanya. Monumen merupakan tempat pelaksanaan hampir lebih dari separuh kegiatan belajar di luar kelas. Dan yamg sering mengajak kami adalah Bu Kris, karena beliau adalah Kakak Pembina Pramuka yang sekaligus gueu olahraga. Di lapangan rumput hijau yang menghampar luas kami mengikrarkan Janji Siaga saat pertama kali menjadi anggota pramuka. Belajar kepanduan dari baris-berbaris, tali-temali, sandi rumput, morse sampai semapour. Di sekelilingi pohon cemara, pohon selong, bunga sepatu dan didominasi oleh pohon kamboja disebelah utara dan selatan. Disinilah kami digembleng untuk belajar menghayati Dasa Dharma Gerakan Pramuka. Lain waktu kami melakukan olahraga, dari atletik sampai permainan kesukaan kami “bola kasti”.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"> Selepas sekolah monumen adalah arena bermain favorit bagi anak-anak. Berlarian mengejar capung, main petak umpet, dan kalau beruntung saat tidak ada Pak Raden (penjaga monomen) kami bebas berenang di kolam air mancur tepat di depan tiang bendera utama. Atau saat bulan puasa tiba sambil menunggu berbuka biasanya kami mincing di kolam bagian sebelah selatan. Kolam berbentuk lingkaran oval dihiasi patung besar yang sedang memancing, serta dihiasi batu alam bulat yang besar-besar . Meski terkadang kami tidak dapat ikan karena tidak ada atau memang airnya yang hitam pekat menyebabkan ikannya mati tapi kami tetap bersuka ria dibawah rindangnya pohon cemara dan kamboja. Sementara tempat dipojok belakang bagaian utara adalah tempat terlarang bagi kami. Anak-anak bilang bahwa batu besar yang menyerupai telor raksasa itu adalah angker. Jika mendekat bisa kesambet, apalagi sampai menyentuhnya bisa sakit dan menyebabkan kematian. Dari semua itu tempat paling favorit adalah patung ABRI dan Pak Tani. Biasanya kami berlomba untuk menaikinya utuk merebutkan Bedil Raksasa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"> Puncak keramaian di monument berlangsung saat perayaan hari kemerdekaan. Di sisi jalan dibangun panggung kehormatan tempat Bapak Bupati dan pejabat pemda berada saat karnaval tujuh belasan. Di depan panggung kehormatan inilaah para peserta karnaval memainkan aksi –aksi terbaiknya. Mempertontonkan kebolehannya di depan para punggawa pejabat teras pemda.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"> Teman, sedulur itu dulu coba tenggok monument GBN sekarang! Entah apa yang ada di benak pikiran para pejabat itu, halaman hijau luas itu telah digusur. Dibuat jalan aspal busur, membujur dari utara ke selatan. Ditengah isu rawannya pemanasan global, lapangan terbuka hijau malah tergerus. Monumen ku tak lagi luas, hilang sudah kolam air mancur.Terbabat pohon cemara dan kamboja, terganti lapangan rumput hijau dengan mengkilatnya aspal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waroengtegal.org/2008/02/12/monumen-gbn/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
